Program RATAKAN Bekali 500 Siswa SMKN 3 Pekanbaru Tangkal IRET

Program RATAKAN Bekali 500 Siswa SMKN 3 Pekanbaru Tangkal IRET

Latar Belakang Program RATAKAN

Plat Merah – Program Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan (RATAKAN) diinisiasi oleh Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri sebagai upaya preventif menghadapi ancaman Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) di kalangan generasi muda. Di era digitalisasi yang pesat, ancaman paham IRET tidak datang dari aksi fisik semata, melainkan melalui narasi provokatif di media sosial, game daring, hingga konten digital berbentuk video atau platform edukasi. SMKN 3 Pekanbaru dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena statusnya sebagai sekolah unggulan yang selama ini menjadi pusat pengembangan karakter kebangsaan di Riau.

Implementasi Program di SMKN 3 Pekanbaru

Pelaksanaan program berlangsung selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026, terhitung 5–10 Juli. Fokus utama adalah membekali 500 siswa baru dengan kemampuan mengenali ciri-ciri penyebaran IRET, menyaring informasi, dan berpikir kritis. Materi disampaikan melalui metode interaktif, seperti diskusi kelompok, simulasi deteksi konten radikal, dan praktik literasi digital. Satgaswil Riau menggandeng dosen fakultas pendidikan dan praktisi media untuk memperkaya konten pelatihan.

Aspek PelatihanPenjelasan
Deteksi IRETMengidentifikasi ciri-ciri konten radikal dalam video, komentar, dan gambar di medsos.
Literasi DigitalMeningkatkan kemampuan siswa menggunakan teknologi secara bijak dan menghindari hoaks.
Karakter KebangsaanMendalami nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat persatuan.

Kronologi Kegiatan

  1. 5 Juli: Persiapan logistik dan koordinasi antara Satgaswil Riau dan pihak sekolah.
  2. 6 Juli: Sosialisasi awal kepada guru dan staf pendidik.
  3. 7 Juli: Sesi utama pelatihan bagi siswa dengan fokus deteksi IRET.
  4. 8–9 Juli: Diskusi kelompok dan simulasi pengelolaan konflik ideologi.
  5. 10 Juli: Penutupan dengan evaluasi dan pengumpulan umpan balik.

Dampak dan Implikasi

Program ini memiliki dampak strategis baik secara mikro maupun makro. Secara mikro, siswa SMKN 3 Pekanbaru akan memiliki kemampuan membedakan narasi provokatif dari informasi objektif, mengurangi risiko terpapar radikalisme melalui media. Secara makro, inisiatif ini menjadi contoh kolaborasi antara aparat penegak hukum dan dunia pendidikan untuk membangun generasi tangguh. Pemerintah daerah berencana mengadopsi model RATAKAN ke 15 sekolah lain di Riau pada 2027.

WilayahJumlah Siswa DibekaliMetode Utama
Riau500Simulasi dan Diskusi
Jambi300Workshop Literasi Digital
Sulawesi Selatan400Kajian Filosofis Nilai Kebangsaan

Antusiasme Siswa dan Harapan Masa Depan

Selama pelaksanaan, siswa menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan membagikan pengalaman pribadi mengenai isu intoleransi di lingkungan sekitar. Salah satu peserta, Naura Salsabila, mengatakan bahwa “Saya baru menyadari bagaimana konten viral di TikTok bisa mengarah pada kebencian. Sekarang saya lebih teliti memilih informasi.”

Satgaswil Riau menetapkan target jangka panjang: mengurangi 50% kasus penyebaran narasi IRET di kalangan remaja Riau dalam 3 tahun ke depan. Program ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai bagian dari Rencana Aksi Nasional Pencegahan Radikalisme 2025–2029.

Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan pendidikan karakter, teknologi informasi, dan partisipasi aktif peserta didik, Program RATAKAN membuktikan bahwa pencegahan IRET tidak harus bergantung pada aksi represif, melainkan melalui penguatan akar rumput masyarakat. SMKN 3 Pekanbaru kini menjadi model sekolah damai yang diusung Kementerian Pendidikan sebagai best practice nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup