Harmoni Tradisi, Grup Koor Ludruk RRI Surabaya Setia Lestarikan Gending Jula-Juli
Pertahankan Akar Budaya di Tengah Modernisasi
Plat Merah – Surabaya, 14 Juli 2026 — Di tengah gempuran digitalisasi dan arus globalisasi yang mengubah gaya hidup masyarakat, Grup Koor Ludruk RRI Surabaya menjadi simbol ketangguhan seni tradisional. Kelompok ini tidak hanya merawat gending Jula-Juli Suroboyoan sebagai bagian dari seni ludruk, tetapi juga berperan sebagai penjaga identitas budaya Surabaya. Dengan menggabungkan elemen musik, tari, dan sastra lisan, mereka membuktikan bahwa seni tradisional tetap relevan jika dihargai secara konsisten.
Sejarah dan Evolusi Gending Jula-Juli
Gending Jula-Juli Suroboyoan telah mengakar sejak abad ke-19 sebagai pembuka pertunjukan ludruk. Awalnya, alunan ini hanya dinyanyikan oleh penonton sebagai bentuk sambutan. Namun seiring perkembangan, grup koor dengan kostum anggun menjadi elemen wajib yang menegaskan karakteristik khas pertunjukan. Alunan berirama cepat dengan lirik parikan (puisi jenaka) yang sarat makna etika dan nilai lokal kini menjadi ikon yang tidak tergantikan.
Komitmen Purbandari: Menjaga Kualitas dan Regenerasi
Di bawah kepemimpinan Purbandari, pemimpin Ludruk RRI Surabaya, grup ini tidak hanya mempertahankan tradisi tetapi juga melakukan inovasi. “Kami tidak boleh menjadi penjaga arsip, melainkan pengembang seni yang hidup,” ujarnya. Beberapa strategi yang diimplementasikan:
- Program pelatihan vokal dan tari untuk generasi muda
- Kolaborasi kreatif dengan seniman kontemporer
- Produksi video dokumenter untuk media digital
- Penggunaan teknologi audio modern dalam rekaman siaran
Langkah-langkah ini berhasil memperluas audiens hingga generasi Z, yang kini mulai menghargai kekayaan budaya lokal.
Kostum Tradisional sebagai Identitas Visual
Penampilan grup koor tidak hanya terletak pada suara harmonis. Kostum mereka mencerminkan keanggunan wanita Jawa Timur:
| Elemen | Deskripsi |
|---|---|
| Kebaya | Berwarna merah muda dengan bordir emas |
| Kain Jarik | Motif batik Sidoarjo dengan warna kontras |
| Ronce Melati | Dipasang di sanggul rambut |
| Aksesori | Anting emas dan kalung sederhana |
Desain ini telah menjadi bagian dari branding seni ludruk, diakui oleh komunitas seni nasional.
Kronologi Perjuangan Grup Koor Ludruk
| Tahun | Event Signifikan |
|---|---|
| 1985 | Diakui sebagai grup koor pertama di RRI Surabaya |
| 2003 | Meraih penghargaan dari Departemen Pendidikan Nasional |
| 2019 | Memulai program pelatihan seni budaya di sekolah |
| 2024 | Kolaborasi dengan akademisi untuk riset budaya |
| 2026 | Merayakan 40 tahun konsistensi dalam pelestarian |
Dampak dan Implikasi Pelestarian
Usaha grup koor ini memiliki efek domino:
- Ekonomi Lokal: Meningkatkan permintaan aksesori tradisional dan bahan tenun
- Pendidikan: Menjadi contoh kurikulum seni budaya di SMK Seni
- Politik: Didukung penuh oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Timur
- Sosial: Membangun rasa kebanggaan generasi muda terhadap warisan budaya
Menurut studi terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), seni tradisional yang dilestarikan secara aktif mampu meningkatkan partisipasi komunitas lokal hingga 65%. Grup Koor Ludruk RRI Surabaya menjadi bukti bahwa seni bukan hanya soal nostalgia tetapi investasi budaya untuk masa depan.
Menjadi Jembatan Generasi
“Kami tidak hanya menyanyi, tapi mengajarkan filosofi hidup melalui parikan,” papar Purbandari. Gending Jula-Juli yang sarat nilai etika masyarakat Jawa Timur menjadi media edukasi tak tertulis. Dengan menggabungkan musik tradisional dengan narasi kontemporer, grup ini menciptakan karya yang mampu menyentuh hati penonton dari berbagai latar belakang usia.
Kisah grup koor ini mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus statis. Dengan dedikasi dan inovasi, seni tradisional tetap dapat menjadi sumber inspirasi yang hidup, sekaligus jendela untuk memahami akar sejarah masyarakat yang kaya dan mendalam.”
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












