Drama saint-etienne vs nice: Nice Selamat dari Degradasi, Wahi Jadi Pahlawan!
Plat Merah – Pertandingan penentuan dalam saga saint-etienne vs nice berlangsung di Allianz Riviera pada Jumat, 29 Mei 2026, dan menjadi momen krusial bagi kedua tim yang berjuang mempertahankan atau meraih tempat di Ligue 1. Setelah laga pertama berakhir tanpa gol (0-0), tekanan memuncak pada babak kedua, di mana OGC Nice menampilkan serangan balasan yang mengesankan.
Sejak peluit awal, Saint-Étienne mencoba mengendalikan permainan dengan serangan cepat. Irvin Cardona hampir membuka skor pada menit ke-9, namun golnya dibatalkan karena offside pasif Stassin. Lucas Stassin dan Cardona terus menimbulkan bahaya, namun pertahanan Nice tetap solid, bahkan menahan beberapa tembakan keras yang hampir masuk.
Momentum berbalik pada menit ke-62 ketika Jonathan Clauss memanfaatkan umpan lepas dari midfield, menembakkan bola ke sudut kiri gawang dan memberi Nice keunggulan pertama (1-0). Saint-Étienne tidak menyerah; pada menit ke-79, Antoine Mendy melakukan handball di dalam kotak penalti, memaksa VAR memberi penalti kepada tim hijau. Davitashvili mengeksekusi penalti dengan tenang, menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Namun kegembiraan Saint-Étienne hanya bertahan singkat. Satu menit kemudian, Boudache, pemain muda asal Nice, mengeksekusi tendangan halus dari dalam kotak penalti, mengembalikan keunggulan Nice menjadi 2-1 (81′). Di menit-menit akhir, Elye Wahi muncul sebagai pahlawan. Ia menembak pertama pada menit ke-87, memanfaatkan umpan silang dan menambah keunggulan menjadi 3-1. Tak berhenti di situ, Wahi kembali mencetak gol penutup pada tambahan waktu (90+1′), menegaskan kemenangan 4-1.
Setelah pertandingan, pelatih Claude Puel menegaskan bahwa timnya berhasil menunjukkan karakter dan kebersamaan. “Saya tidak punya suara lagi, tapi saya bangga dengan pemain yang terus berjuang. Ini bukan sekadar mempertahankan posisi, melainkan proses pertumbuhan bagi semua orang di klub,” ujar Puel dengan senyum lelah namun puas.
Elye Wahi, yang mencetak dua gol penting, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada klub. “Nice adalah satu-satunya klub yang memberi saya kesempatan. Saya menulis sejarah bersama rekan-rekan, dan saya akan selalu mengingat momen ini,” katanya sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
Kemenangan ini memastikan OGC Nice tetap berada di Ligue 1 untuk musim berikutnya, sementara AS Saint-Étienne harus kembali berjuang di Ligue 2. Kedua klub kini menatap masa depan dengan strategi berbeda: Nice berencana memperkuat skuad untuk menghindari bahaya degradasi lagi, sedangkan Saint-Étienne harus menyusun rencana bangkit kembali ke elit Prancis. Pertarungan saint-etienne vs nice menjadi contoh dramatis bagaimana tekanan relegasi dapat memunculkan performa luar biasa dan mengubah nasib sebuah klub.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






![Maarten Paes OTW main bareng pemain buangan Real Madrid [Berita Unggul]: Kiper Timnas Indonesia Tampil Gagah dalam Drama Adu Penalti](https://platmerah.com/wp-content/uploads/2026/06/maarten-paes-otw-main-bareng-pemain-buangan-real-madrid-berita-unggul-kiper-timnas-indonesia-tampil-gagah-dalam-drama-adu-penalti-80x80.webp)


