Fakta Baru Kasus Jesslyn Wijaya: Dibawa Orang Suruhan Ibu, Polisi Jadwalkan Video Call
PlatMerah.com, Jakarta – Kasus dugaan penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya memasuki babak baru. Polisi mengungkap bahwa Jesslyn dibawa oleh orang-orang suruhan ibunya saat meninggalkan Indonesia. Informasi ini disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, di Polda Metro Jaya, Jumat (3/7).
Polisi juga telah melacak jejak Jesslyn dari lokasi dugaan penculikan di Sawah Besar, Jakarta Pusat, kemudian ke Semarang, Malaysia, dan berakhir di Bangkok, Thailand. Perjalanan itu dilakukan bersama ibunya dan tantenya.
Polisi Jadwalkan Komunikasi dengan Jesslyn
Roby mengatakan, polisi telah menerima informasi mengenai keberadaan Jesslyn melalui sebuah video testimoni. Namun, untuk memastikan apakah ia dibawa paksa atau pergi secara sukarela, polisi masih meminta komunikasi langsung melalui Zoom meeting atau video call.
“Untuk keberadaannya, ya, sudah ada video testimoni. Namun, kami masih meminta untuk komunikasi langsung by Zoom meeting atau melalui video call kepada Jesslyn. Kita jadwalkan hari ini sudah bisa berhubungan atau bersentuhan langsung dengan Jesslyn yang sedang berada di luar negeri melalui Zoom meeting dan video call,” ungkap Roby.
Calon Suami Jesslyn Berjuang Cari Keadilan
Evan, calon suami Jesslyn, terus berjuang menempuh berbagai upaya hukum untuk menemukan keberadaan calon istrinya yang hilang kontak selama lebih dari dua pekan. Siang ini, Evan bersama kuasa hukumnya, Andi Darti, mendatangi Komnas Perempuan untuk meminta perlindungan dan bantuan penanganan kasus dugaan perampasan kemerdekaan tersebut.
“Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun untuk bisa menentukan pilihannya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, mandiri,” tegas Evan.
Evan juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan Jesslyn. Ia mengaku mengetahui rekam jejak penderitaan calon istrinya yang pernah dikurung dan dirampas seluruh alat komunikasinya oleh pihak keluarga pada rentang April hingga Oktober 2025 lalu. Perlakuan tersebut membuat Jesslyn mengalami depresi berat hingga tiga kali mencoba bunuh diri.
Komnas Perempuan Terkendala
Kuasa hukum Evan, Andi Darti, mengatakan bahwa Komnas Perempuan menghadapi kendala serius dalam memberikan pendampingan karena seluruh akses komunikasi dengan Jesslyn terputus total. Hal ini membuat Komnas Perempuan sulit memantau keselamatan korban.
“Sebenarnya dari pihak Komnas Perempuan itu sudah memberikan akses kepada Jesslyn, tetapi karena memang handphone-nya tidak ada, saat ini dia tidak memegang handphone, dari Komnas Perempuan tidak bisa mengakses, tidak bisa berkomunikasi dengan Jesslyn,” ungkap Andi.
Evan menambahkan bahwa pola pengekangan ketat dan penyitaan gawai oleh pihak keluarga ini pernah terjadi sebelumnya. Jesslyn tidak boleh keluar sendiri, tidak bisa melakukan hobinya, dan bahkan pekerjaan yang sudah dibayar kliennya disuruh refund.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menunggu hasil komunikasi langsung dengan Jesslyn untuk memastikan kondisinya dan menentukan langkah selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










