Breidablik Jadi Batu Sandungan: Perjalanan Klub Islandia di Kancah Eropa
Plat Merah – Klub asal Islandia, Breidablik, kembali mencuri perhatian di pentas Eropa. Meski bukan nama besar, klub yang berbasis di Kópavogur ini telah menunjukkan taringnya dengan mengalahkan tim-tim yang lebih diunggulkan. Dalam beberapa musim terakhir, Breidablik menjadi momok bagi lawan-lawannya di babak kualifikasi Liga Champions, termasuk saat mereka menghancurkan Egnatia Rrogozhine dengan agregat 5-1 pada musim lalu. Kini, nama Breidablik kembali disebut-sebut setelah kemenangan dramatis Vikingur Reykjavik atas Gyori ETO, yang mengingatkan pada dominasi klub-klub Islandia di Eropa.
Pada leg pertama babak kualifikasi Liga Champions, Vikingur Reykjavik sukses mengalahkan Gyori ETO 1-0 berkat gol telat Nikolaj Hansen. Hasil ini membuat Vikingur unggul agregat menjelang leg kedua di Hungaria. Namun, yang menarik adalah bagaimana Breidablik menjadi tolok ukur kekuatan klub Islandia. Dalam wawancara pascapertandingan, pelatih Vikingur, Solvi Ottesen, mengakui bahwa kekalahan dari Breidablik di liga domestik menjadi pelajaran berharga. “Kami sempat kalah 0-3 dari Breidablik, dan itu membuat kami sadar bahwa tidak ada lawan yang bisa diremehkan,” ujarnya.
Sementara itu, di sisi lain, Shamrock Rovers dari Irlandia juga tengah berjuang membalikkan defisit dua gol melawan Floriana. Pelatih Stephen Bradley optimistis timnya bisa meniru keberhasilan Breidablik yang sering kali bangkit dari situasi sulit. “Kami tahu Breidablik pernah kalah di leg pertama lalu lolos. Itu memberi kami inspirasi,” kata Bradley. Namun, catatan sejarah menunjukkan Rovers hanya dua kali berhasil membalikkan keadaan dari 31 kesempatan sebelumnya.
Breidablik sendiri tidak hanya dikenal karena prestasi di Eropa, tetapi juga sebagai pemasok bakat muda. Salah satu produk akademi mereka, Cole Campbell, baru saja pindah secara permanen ke Elversberg setelah sebelumnya memperkuat Borussia Dortmund. Campbell, yang kini berusia 20 tahun, memilih membela tim nasional Amerika Serikat setelah sebelumnya bermain untuk Islandia di level junior. Langkah ini menunjukkan bahwa Breidablik memiliki sistem pengembangan pemain yang mumpuni.
Di sisi lain, Egnatia Rrogozhine dari Albania juga berusaha mengikuti jejak Breidablik. Setelah bermain imbang 1-1 melawan Petrocub Hincesti di leg pertama, mereka berharap bisa lolos ke babak berikutnya. Pelatih Nevil Dede mengakui bahwa kekalahan telak dari Breidablik musim lalu menjadi cambuk bagi timnya. “Kami belajar dari pengalaman melawan Breidablik. Mereka adalah tim yang tidak pernah menyerah, dan itu yang kami coba tiru,” ujarnya.
Pertandingan leg kedua antara Gyori ETO dan Vikingur Reykjavik akan menjadi ujian bagi kedua tim. Gyori, yang memiliki rekor kandang impresif, harus menang dengan selisih dua gol untuk lolos. Sementara Vikingur, yang hanya membutuhkan hasil imbang, akan mencoba memanfaatkan pengalaman mereka melawan tim-tim seperti Breidablik. Dalam pertemuan sebelumnya di tahun 1983, Gyori berhasil mengalahkan Vikingur di kandang, tetapi sejarah mungkin tidak akan terulang mengingat performa gemilang Vikingur musim ini.
Kesimpulannya, Breidablik telah menjadi simbol kebangkitan sepak bola Islandia di Eropa. Keberhasilan mereka mengalahkan tim-tim unggulan menjadi inspirasi bagi klub-klub kecil lainnya. Dengan sistem pembinaan yang baik dan semangat pantang menyerah, bukan tidak mungkin Breidablik akan terus menjadi ancaman di kompetisi Eropa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












