UEFA Tolak Aturan VAR Kontroversial Piala Dunia 2026, Tegaskan Batasan Intervensi

UEFA Tolak Aturan VAR Kontroversial Piala Dunia 2026, Tegaskan Batasan Intervensi

Plat MerahUni Sepak Bola Eropa (UEFA) mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan instruksi baru bagi wasit Video Assistant Referee (VAR) di kompetisi Eropa. Langkah ini merupakan respons atas penerapan aturan kontroversial di Piala Dunia 2026 yang memungkinkan VAR menghukum pemain karena akting atau simulasi (diving) di luar kategori kesalahan identifikasi pemain. Keputusan UEFA ini memicu perdebatan luas di kalangan pengamat sepak bola.

Dalam pedoman yang dirilis pekan ini, UEFA melarang wasit VAR menggunakan klausul “kesalahan identifikasi pemain” untuk menjatuhkan sanksi atas aksi diving. Aturan tersebut sebelumnya diterapkan dua kali di Piala Dunia 2026, termasuk saat pemain Swiss Breel Embolo diusir pada menit ke-72 dalam perempat final melawan Argentina. Saat itu, wasit awalnya memberikan kartu kuning kepada Leandro Paredes, namun setelah meninjau ulang, Embolo dianggap melakukan diving dan mendapat kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Argentina pun menang 3-1 setelah perpanjangan waktu.

Keputusan UEFA ini dipandang sebagai penolakan terhadap perluasan wewenang VAR yang dinilai terlalu diskresioner. Menurut UEFA, kesalahan identifikasi pemain adalah keputusan digital yang jelas, sedangkan menghukum diving memerlukan interpretasi subjektif dan pemeriksaan layar. Oleh karena itu, UEFA memerintahkan wasit di babak kualifikasi kompetisi Eropa untuk membatasi penggunaan aturan tersebut hanya pada kasus nyata kesalahan identifikasi, seperti memberikan kartu kepada pemain yang salah.

Sikap Uni Sepak Bola Eropa ini menuai reaksi beragam. Banyak pihak mendukung langkah UEFA karena dianggap menjaga konsistensi dan mengurangi intervensi berlebihan. Namun, kritikus menilai UEFA justru menghambat upaya memberantas diving yang merusak sportivitas. Di sisi lain, UEFA juga menolak mengadopsi aturan Piala Dunia lain yang mengharuskan pemain diusir jika menutup mulut saat berselisih dengan wasit.

Kontroversi ini terjadi di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang juga dirasakan di Indonesia. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, saat berkunjung ke Sulawesi Utara, mengaku takjub dengan euforia Piala Dunia di daerah tersebut. “Sepanjang jalan, ada bendera peserta Piala Dunia. Ini menarik,” ujarnya. Ia juga memuji toleransi dan keindahan alam Sulawesi Utara.

Dengan keputusan ini, UEFA menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi wasit dan membatasi intervensi teknologi yang berpotensi kontroversial. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara keadilan dan kelancaran pertandingan di kompetisi Eropa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup