Kemenpar Dorong Pelestarian Budaya untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Latar Belakang: Peran Budaya dalam Pariwisata Modern
Plat Merah – Pariwisata di Indonesia telah berkembang dari model konvensional yang berfokus pada jumlah kunjungan wisatawan ke konsep yang lebih holistik. Menurut data Kementerian Pariwisata, sektor ini berkontribusi 4,6% terhadap PDB nasional pada 2025. Namun, tantangan utama muncul ketika pembangunan destinasi sering kali mengorbankan kelestarian budaya lokal. Plt Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan, Hafiz Agung Rifai, menekankan bahwa pariwisata berkelanjutan harus menjadi paradigma baru.
Kenduri Seni Melayu: Model Pariwisata Regeneratif
Pada 3 Juli 2026, Kementerian Pariwisata menggelar Kenduri Seni Melayu di Dataran Engku Puteri, Batam. Acara ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan implementasi dari strategi “pariwisata regeneratif” yang mengutamakan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hafiz menjelaskan, “Budaya Melayu harus ditanamkan lewat atraksi yang bermakna, bukan sekadar dekorasi.”
Strategi Pengelolaan Budaya
- Menghidupkan tradisi lewat seni pertunjukan interaktif
- Mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kegiatan
- Mengembangkan produk turis berbasis nilai-nilai lokal
Kronologi Pengembangan Event
- 2020: Rencana awal penguatan brand event budaya
- 2023: Pilot project di 5 destinasi, termasuk Batam
- 2024: Peningkatan partisipasi pelaku seni lokal hingga 60%
- 2026: Implementasi program di 15 kota dengan kriteria unik
Dampak Ekonomi dan Sosial
Program ini memberikan manfaat ganda. Data 2025 menunjukkan pendapatan masyarakat Batam dari sektor pariwisata meningkat 22%, sebagian besar dari UMKM yang menjual produk budaya. Namun, tantangan tetap ada: 40% warga mengkhawatirkan hilangnya identitas budaya akibat komersialisasi berlebihan.
Analisis Tabel: Perbandingan Event Budaya vs Pariwisata Konvensional
| Aspek | Event Budaya | Pariwisata Konvensional |
|---|---|---|
| Persentase Pendapatan Lokal | 75% | 35% |
| Partisipasi Masyarakat | 85% | 20% |
| Kelestarian Budaya | Tinggi | Rendah |
| Rata-rata Tingkat Kepuasan Wisatawan | 92% | 78% |
Tantangan dan Solusi
Kepala Dinas Pariwisata Batam, Rismawati, mengakui adanya hambatan teknis. “Perlu keterlibatan aktif generasi muda dalam dokumentasi tradisi, dan penyusunan kurikulum seni lokal di sekolah,” ujarnya. Solusi yang diusulkan termasuk:
- Program pelatihan desainer budaya digital
- Kemitraan dengan lembaga pendidikan untuk konservasi seni
- Pengembangan platform digital untuk dokumentasi budaya
Peluang Masa Depan
Kemenpar berencana memperluas model ini ke 10 provinsi di 2027. Kota seperti Yogyakarta, Makassar, dan Medan dipilih sebagai kawasan uji coba. “Kita ingin setiap destinasi menjadi jembatan antara warisan leluhur dan kebutuhan pariwisata modern,” kata Hafiz. Dengan pendekatan ini, diharapkan 50% destinasi andalan Indonesia akan memiliki program budaya berkelanjutan dalam lima tahun ke depan.
Kenduri Seni Melayu bukan sekadar acara budaya, melainkan simbol transformasi paradigma pariwisata Indonesia. Dari sini, muncul harapan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya memberi keuntungan finansial, tetapi juga melestarikan jati diri bangsa di era globalisasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













