Mahasiswa FKM Unsri Edukasi Warga Ogan Ilir Buat Filter Air Sederhana, Pengetahuan Masyarakat Naik 40 Persen
Latar Belakang Program JERNIH di Ogan Ilir
Plat Merah – Kabupaten Ogan Ilir, salah satu wilayah di Sumatera Selatan, menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan air bersih. Data dari Dinas Kesehatan Sumsel menunjukkan 23 persen dari 120 desa di kabupaten ini masih mengalami masalah kualitas air. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya (FKM Unsri) melalui Program Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) menginisiasi program JERNIH (Jernihkan Air, Wujudkan Hidup Bersih) untuk memberikan solusi praktis dan edukasi langsung kepada masyarakat.
Metodologi Penyuluhan yang Inovatif
Sebelum pelaksanaan, tim yang terdiri dari 30 mahasiswa melakukan pendataan komprehensif terhadap 50 responden di tiga dusun Desa Kota Daro I. Mereka menggunakan kombinasi wawancara mendalam, observasi langsung, dan aplikasi KoboCollect untuk mengumpulkan data. Analisis awal mengungkap 67 persen warga masih menggunakan sumber air tanah yang rentan terkontaminasi logam berat.
Keunikan program ini terletak pada pendekatan learn-by-doing. Selain teori, warga diajak mempraktikkan pembuatan filter air sederhana. Berikut komponen penyaring dan fungsinya:
| Bahan | Fungsi |
|---|---|
| Batu kerikil | Menyaring kotoran ukuran besar |
| Pasir silika | Menjernihkan air dengan menyaring partikel halus |
| Arang aktif | Mengurangi bau dan warna air |
| Tawas | Mengendapkan kotoran organik |
Kronologi Pelaksanaan Program
- April 2026: Tim melakukan survei awal dan identifikasi kebutuhan
- Mei 2026: Desain program diintegrasikan dengan SDGs 6
- 18-19 Mei 2026: Pelatihan intensif untuk perangkat desa
- 20 Mei 2026: Pelaksanaan demonstrasi massal di Kantor Desa
Hasil Evaluasi yang Menggembirakan
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan dramatis:
- Pengetahuan tentang PHBS naik dari 53% menjadi 93,3%
- 78 persen peserta langsung menerapkan filter air di rumah
- Kepatuhan cuci tangan dengan sabun meningkat 55%
Ketua Tim PBL, Andi Saputra, menjelaskan, “Metode praktis ini mematahkan anggapan bahwa teknologi lingkungan harus mahal. Dengan biaya maksimal Rp50.000, warga bisa membuat sistem penyaring yang layak.”
Dampak Jangka Panjang dan Replikasi
Program ini telah menginspirasi 5 desa tetangga untuk mengajukan bantuan serupa. Dinas Pendidikan Sumsel berencana mengintegrasikan modul ini ke kurikulum sekolah dasar. Dampak kumulatif yang diharapkan:
- Penurunan kasus diare sebanyak 30% dalam 2 tahun
- Meningkatkan akses air layak dari 48% ke 72%
- Membentuk 50 relawan kesehatan masyarakat di tingkat dusun
Kolaborasi dengan Stakeholder Lokal
Pemdes Kota Daro I menyediakan dana desa sebesar Rp75 juta untuk membangun 15 unit filter komunal. Bupati Ogan Ilir, H. Ilyas Panji, menyatakan akan mereplikasi program ke 12 desa rawan air. Kolaborasi ini mencerminkan tatanan baru pendidikan kesehatan yang tidak hanya edukatif tetapi juga berdampak langsung pada taraf hidup masyarakat.
Program JERNIH menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan masyarakat yang menggabungkan teori dengan praktik sederhana sangat efektif. Dengan pendekatan inovatif seperti ini, target SDGs 6 tentang air bersih dan sanitasi layak akan semakin terjangkau bagi komunitas pedesaan di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










