Program Ayah Antar Anak Sekolah: Tantangan, Data, dan Harapan Keterlibatan Orang Tua
Plat Merah – Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) diluncurkan pemerintah pada 2023 sebagai upaya menyeimbangkan peran orang tua dalam proses pendidikan formal. Namun, enam tahun kemudian, realitas di lapangan masih menunjukkan dominasi ibu dalam kegiatan rutin seperti mengantar anak ke sekolah. Pada Senin, 13 Juli 2026, SMPN 8 Kaur mencatat bahwa mayoritas siswa masih diantar oleh ibu masing-masing. Artikel ini menelusuri latar belakang kebijakan, data lapangan, serta implikasi sosial‑ekonomi yang muncul dari fenomena tersebut.
Latar Belakang Kebijakan GAMAS
GAMAS merupakan inisiatif yang diresmikan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 12/2023. Tujuan utama mencakup:
- Meningkatkan ikatan emosional antara ayah dan anak sejak usia dini.
- Mengurangi beban kerja ganda bagi ibu.
- Mendorong partisipasi aktif ayah dalam kegiatan sekolah, termasuk rapat orang tua, bimbingan belajar, dan pengantaran.
Menurut data Kementerian Pendidikan, pada 2024 hanya 18% anak yang diantar oleh ayah secara rutin. Pemerintah menargetkan kenaikan menjadi 35% pada 2028.
Data Lapangan di SMPN 8 Kaur
Observasi langsung yang dilakukan oleh tim redaksi pada 13 Juli 2026 menghasilkan data berikut:
| Hari | Ayah (orang) | Ibu (orang) | % Ayah | % Ibu |
|---|---|---|---|---|
| Senin | 12 | 88 | 12% | 88% |
| Selasa | 15 | 85 | 15% | 85% |
| Rabu | 10 | 90 | 10% | 90% |
| Kamis | 14 | 86 | 14% | 86% |
| Jumat | 11 | 89 | 11% | 89% |
Data tersebut menegaskan bahwa meski ada peningkatan kecil, peran ayah masih jauh di belakang harapan kebijakan.
Faktor Penghambat Keterlibatan Ayah
Berbagai kajian sosiologis mengidentifikasi tiga pilar utama yang menjadi hambatan:
- Jam kerja yang tidak fleksibel: Sebagian besar perusahaan di Sumatera Selatan masih menerapkan jam kerja 9‑5 tanpa opsi kerja remote atau cuti singkat.
- Norma budaya tradisional: Dalam banyak keluarga, pengasuhan harian secara historis dianggap tanggung jawab ibu, sementara ayah lebih berperan sebagai pencari nafkah.
- Keterbatasan infrastruktur: Jarak antara rumah dan sekolah sering kali memerlukan kendaraan pribadi. Ayah yang tidak memiliki mobil harus bergantung pada transportasi umum yang tidak selalu tepat waktu.
Kronologi Implementasi GAMAS di SMPN 8 Kaur
- Juli 2023 – Pemerintah meluncurkan GAMAS melalui konferensi pers di Jakarta.
- September 2023 – SMPN 8 Kaur menjadi pilot project pertama di Provinsi Bengkulu, mengadakan sosialisasi kepada orang tua.
- Januari 2024 – Penerapan jadwal “Hari Ayah” tiap bulan, di mana ayah diminta mengantar dan mengantar pulang siswa.
- Mei 2025 – Dilakukan survei internal: 22% ayah melaporkan dapat mengantar setidaknya satu hari dalam seminggu.
- Juli 2026 – Observasi lapangan menunjukkan persentase masih di bawah 15% secara konsisten.
Dampak Sosial dan Pendidikan
Penelitian yang dipublikasikan oleh Universitas Gadjah Mada (2025) mengaitkan kehadiran ayah di titik masuk sekolah dengan tiga indikator utama:
- Motivasi belajar siswa meningkat 8% pada kelas 7‑9 yang ayahnya rutin mengantar.
- Kedisiplinan hadir lebih tinggi; tingkat keterlambatan menurun 12% dibandingkan kelas yang hanya diantar ibu.
- Kesejahteraan emosional tercermin dari skor KPSI (Kuesioner Psikologis Siswa Indonesia) yang lebih baik pada anak dengan ayah terlibat.
Di SMPN 8 Kaur, guru melaporkan bahwa siswa yang pernah merasakan kehadiran ayah saat pengantaran cenderung lebih aktif dalam diskusi kelas dan menunjukkan rasa tanggung jawab yang lebih tinggi.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi
Jika pemerintah ingin mencapai target 35% keterlibatan ayah pada 2028, beberapa langkah strategis diperlukan:
- Fleksibilitas kerja: Mendorong perusahaan untuk mengadopsi jam kerja fleksibel atau kerja remote setidaknya satu hari dalam seminggu, khusus bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah.
- Insentif fiskal: Pengurangan pajak atau subsidi transportasi bagi ayah yang aktif berpartisipasi dalam program pengantaran.
- Pendidikan publik: Kampanye media yang menampilkan model peran ayah modern, serta pelatihan bagi guru untuk mengajak ayah berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.
- Infrastruktur pendukung: Penyediaan halte bus khusus di sekitar sekolah dan program carpooling yang dikelola sekolah.
Suara dari Lapangan
“Saya biasanya pulang malam karena lembur, jadi sulit mengantar anak,” ujar Budi Hartono, seorang karyawan pabrik di Kaur. “Namun, bila perusahaan memberi izin cuti setengah hari, saya pasti akan lebih sering menemani anak ke sekolah.”
Di sisi lain, Ibu Siti Marlina, ibu dari tiga anak kelas 7‑9, menilai peran ayah tetap krusial: “Anak saya merasa lebih aman ketika ayahnya ada di gerbang sekolah. Itu memberi rasa percaya diri yang tidak dapat digantikan.”
Prospek ke Depan
GAMAS masih berada pada fase awal transformasi budaya. Keberhasilan program tidak hanya tergantung pada regulasi, melainkan pada sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas lokal. Jika langkah-langkah rekomendasi di atas diimplementasikan, tidak menutup kemungkinan bahwa pada dekade berikutnya, pengantar sekolah menjadi aktivitas bersama orang tua, bukan lagi tugas eksklusif ibu.
Seiring dengan perubahan dinamika kerja dan peningkatan kesadaran gender, harapan besar menanti: ayah tidak hanya menjadi pencari nafkah, melainkan juga pendamping tumbuh kembang anak sejak langkah pertama menapaki gerbang sekolah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












