Kukerta Unri Gelar Nobar Edukatif untuk Anak di Desa Sialang Pasung
Plat Merah – Desa Sialang Pasung, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, menjadi saksi sebuah inisiatif kreatif pada Minggu malam 19 Juli 2026. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (Unri) menyelenggarakan program “SILPA LAGI NOBAR” (Sialang Pasung Nonton Bareng) yang menggabungkan hiburan sekaligus pendidikan bagi anak‑anak usia SD hingga SMP. Acara yang menayangkan film animasi Indonesia “JUMBO” tidak hanya mengisi waktu luang, tetapi juga menanamkan nilai‑nilai moral penting seperti rasa hormat, persahabatan, dan anti‑bullying.
Latar Belakang dan Tujuan Program
Program nobar ini merupakan bagian dari tugas pengabdian masyarakat yang diwajibkan bagi mahasiswa KKN. Apriedo Phaedra Herlambang, penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa pilihan film tidak kebetulan. “Film Jumbo mengajarkan pentingnya menghargai sesama, membangun persahabatan, dan menjauhi perilaku bullying sejak usia dini,” ujarnya. Dengan menayangkan film yang relevan secara budaya, Kukerta Unri berupaya menciptakan alternatif hiburan positif yang sekaligus menjadi sarana pembelajaran karakter.
Kronologi Pelaksanaan
- 15 Juli 2026: Koordinasi awal antara Tim Kukerta, Pemerintah Desa, dan Sekretaris Desa Budi Santoso.
- 16–18 Juli 2026: Persiapan teknis (penyewaan proyektor, sound system, dan penyusunan kursi).
- 19 Juli 2026, 18.00 WIB: Pembukaan acara oleh Budi Santoso, diikuti sambutan Apriedo Phaedra Herlambang.
- 19 Juli 2026, 18.30 WIB: Pemutaran film “JUMBO”.
- 19 Juli 2026, 20.00 WIB: Diskusi singkat dan tanya‑jawab bersama anak‑anak serta orang tua.
- 19 Juli 2026, 20.30 WIB: Penutupan dan foto bersama.
Data Kunci Acara
| Item | Keterangan |
|---|---|
| Tanggal | 19 Juli 2026 |
| Lokasi | Kantor Desa Sialang Pasung |
| Peserta | 30 anak (SD‑SMP) + orang tua |
| Film | JUMBO (animasi Indonesia) |
| Panitia | Tim Kukerta Unri Desa Sialang Pasung |
Reaksi Peserta dan Masyarakat
Berbagai pihak memberikan tanggapan positif. Sekretaris Desa, Budi Santoso, menyatakan, “Kami sangat mengapresiasi kreativitas mahasiswa Kukerta Unri. Kegiatan ini bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai‑nilai moral kepada anak‑anak dengan cara yang menyenangkan. Semoga program seperti ini terus dilaksanakan.”
Seorang peserta, Zico (12 tahun), menambahkan, “Seru sekali nonton bareng bersama teman‑teman. Kakak‑kakak KKN juga baik dan ramah. Semoga nanti ada kegiatan seperti ini lagi.”
Dampak dan Implikasi
Acara ini menghasilkan beberapa dampak nyata:
- Peningkatan Kesadaran Anti‑Bullying: Diskusi pasca‑film membantu anak‑anak mengidentifikasi perilaku bullying dan cara menghadapinya.
- Penguatan Hubungan Mahasiswa‑Masyarakat: Interaksi langsung menciptakan rasa saling percaya, memperlancar program KKN berikutnya.
- Pembentukan Karakter: Nilai persahabatan dan rasa hormat yang ditanamkan melalui cerita film berpotensi membentuk generasi yang lebih toleran.
- Stimulus Ekonomi Lokal: Penyediaan peralatan audiovisual melibatkan pedagang setempat, menambah pemasukan mikro.
- Model Replikasi: Desa‑desa lain di Kepulauan Meranti dapat mencontoh format ini sebagai alternatif kegiatan ekstra‑kurikuler.
Analisis Kebijakan dan Potensi Pengembangan
Program semacam ini selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menekankan pendidikan karakter di luar jam sekolah. Jika didukung oleh pemerintah daerah, hiburan edukatif dapat menjadi bagian reguler dalam agenda desa, misalnya melalui alokasi dana Desa untuk kegiatan budaya‑edukasi.
Selain itu, kolaborasi dengan studio film lokal dapat membuka peluang sponsor, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan kualitas penyajian meningkat. Penggunaan film Indonesia juga mendukung industri kreatif nasional.
Harapan Kedepan
Mahasiswa Kukerta Unri menegaskan keinginan untuk menjadikan “SILPA LAGI NOBAR” sebagai program rutin tahunan. Mereka berharap keberlanjutan acara akan memperkuat jaringan sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat, sekaligus menumbuhkan budaya menonton bersama yang edukatif.
Dengan menempatkan nilai moral pada layar lebar, Kukerta Unri tidak hanya memberi hiburan sesaat, tetapi menanamkan bekal karakter yang dapat dibawa anak‑anak ke jenjang pendidikan berikutnya. Inisiatif ini membuktikan bahwa pendidikan tidak harus terkurung di ruang kelas; ia dapat tumbuh di lapangan desa, di balik cahaya proyektor, dan di hati generasi muda yang terus belajar menghargai satu sama lain.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












