Mahasiswa AMIKOM Yogya Angkat Kisah Penghayat Kepercayaan lewat Film Dokumenter

Mahasiswa AMIKOM Yogya Angkat Kisah Penghayat Kepercayaan lewat Film Dokumenter

PlatMerah.com, Yogyakarta – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta melalui tim produksi Kitakita Media memproduksi film dokumenter berjudul Laku lan Lelaku. Film ini mengangkat kisah penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, sebagai karya tugas akhir yang bertujuan memberikan pemahaman tentang keberagaman budaya dan kepercayaan di Indonesia.

Film berdurasi 17 menit ini menyoroti kehidupan Sarno Kusnandar, ketua penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati, yang berbagi pengalaman hidup, pandangan spiritual, serta nilai-nilai yang dijalankan sehari-hari. Melalui pendekatan dokumenter, film ini diharapkan menjadi media edukasi yang membuka ruang dialog tentang toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.

Proses Produksi dan Observasi Langsung

Tim Kitakita Media melakukan observasi langsung terhadap aktivitas para penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Wonosobo. Mereka juga melakukan wawancara mendalam untuk menggali kisah dan praktik spiritual yang masih dijaga oleh komunitas tersebut. Pendekatan ini dilakukan agar film mampu menyajikan gambaran yang humanis dan informatif.

Latar Belakang dan Nilai Edukatif

Pemilihan tema penghayat kepercayaan didasari oleh keinginan untuk menghadirkan karya audio visual yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga edukatif dan sosial. Tim menilai keberadaan penghayat kepercayaan masih belum banyak dipahami masyarakat luas. Oleh karena itu, film ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi budaya yang memperkenalkan kehidupan penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati kepada khalayak yang lebih luas.

Tantangan yang Dihadapi Penghayat Kepercayaan

Film ini juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi penghayat kepercayaan dalam kehidupan sosial. Mereka sering dipersepsikan berbeda karena praktik ibadah dan adat istiadat yang berbeda. Beberapa kasus menunjukkan adanya pemaksaan identitas agama tertentu serta stigma negatif yang dianggap menyimpang. Di bidang pendidikan, siswa penghayat kepercayaan di Wonosobo sebelumnya tidak mendapatkan hak pendidikan sesuai keyakinan mereka hingga diberlakukannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 27 Tahun 2016.

Harapan dan Dampak

Melalui film Laku lan Lelaku, tim produksi ingin menunjukkan bahwa penghayat kepercayaan merupakan bagian dari keberagaman budaya Indonesia yang memiliki nilai-nilai kehidupan, spiritualitas, dan kearifan lokal yang patut dihargai. Diharapkan film ini dapat menjadi media edukasi yang membuka ruang dialog mengenai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta pelestarian budaya lokal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup