Aktivis 98 Geram Batalnya Peringatan 28 Tahun Reformasi, Tuduhan Pembungkaman Demokrasi Mengguncang Jakarta
Plat Merah – Aktivis 98 geram agenda peringatan 28 tahun reformasi batal digelar: Pembungkaman demokrasi! [titlebase] menuduh pemerintah secara sengaja menutup ruang publik untuk memperingati momen penting dalam sejarah politik Indonesia. Keluhan ini muncul setelah Persatuan Nasional Aktivis (PENA) 98 mengumumkan pembatalan acara peringatan yang semula dijadwalkan pada 21 Mei 2026 di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta.
Reformasi 1998, yang mengakhiri rezim otoriter Soeharto, menjadi tonggak perubahan politik, ekonomi, dan sosial. Selama 25 tahun pertama, PENA 98 telah menyelenggarakan berbagai diskusi, termasuk “Refleksi 25 Tahun Reformasi” yang menampilkan tokoh seperti Saor Siagian, pengacara Forum Kota 98, dan Rektor UKI Dhaniswara K Harjono. Diskusi tersebut menekankan pentingnya kebebasan pers, hak asasi manusia, dan partisipasi politik yang inklusif.
Memasuki usia 28 tahun, PENA 98 kembali menyiapkan agenda peringatan yang melibatkan Ketua Umum Tumpak Sidabutar, aktivis senior, serta akademisi dan jurnalis. Sidabutar menegaskan bahwa peringatan bukan sekadar ritual, melainkan sarana mengingat bahaya krisis ekonomi yang kembali mengancam, seperti yang terjadi pada Mei 1998. Ia menekankan perlunya kebijakan ekonomi yang berhati-hati, mengingat kenaikan BBM dan inflasi dapat memicu ketegangan sosial.
Namun, pada minggu menjelang acara, pihak berwenang menolak izin penggunaan ruang publik dan menunda pelaksanaan. Aktivis 98 geram agenda peringatan 28 tahun reformasi batal digelar: Pembungkaman demokrasi! [titlebase] menjadi sorotan utama. “Kami tidak akan tinggal diam ketika suara kami dibungkam,” ujar Tumpak Sidabutar dalam pernyataan resmi. “Pembatalan ini menandakan upaya menutup ruang kritis bagi masyarakat untuk menilai kebijakan pemerintah,” tambahnya.
Sementara itu, Saor Siagian mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat dan hak untuk mengkritik pemerintah adalah fondasi demokrasi yang dijaga sejak reformasi. Ia menyoroti bahwa media kini dapat beroperasi lebih leluasa, namun ancaman hukum dan tekanan politik tetap mengintai. “Jika agenda peringatan dibatalkan, itu mengirim sinyal bahwa pemerintah tidak nyaman dengan refleksi sejarah yang tajam,” kata Siagian.
Para aktivis juga menyoroti potensi krisis ekonomi yang mengintai. Aktivis 98 geram agenda peringatan 28 tahun reformasi batal digelar: Pembungkaman demokrasi! [titlebase] sekaligus mengingatkan bahwa kebijakan fiskal yang tidak terukur dapat memicu inflasi, pengangguran, dan ketidakstabilan sosial. Mereka menuntut transparansi dalam pengelolaan anggaran serta penanggulangan kemiskinan yang lebih efektif.
Reaksi publik beragam. Sebagian masyarakat menilai pembatalan sebagai langkah preventif untuk menghindari kerusuhan, sementara kelompok lain melihatnya sebagai pelanggaran hak sipil. Pengamat politik menilai bahwa tindakan ini dapat memperlemah kepercayaan publik terhadap institusi negara dan menurunkan kualitas demokrasi Indonesia.
Kesimpulannya, pembatalan agenda peringatan 28 tahun reformasi menimbulkan kegelisahan di kalangan aktivis dan masyarakat luas. Aktivis 98 geram agenda peringatan 28 tahun reformasi batal digelar: Pembungkaman demokrasi! [titlebase] menjadi simbol perlawanan terhadap upaya mengekang kebebasan berpendapat dan mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah untuk mencegah terulangnya krisis ekonomi dan politik di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












