Fraksi PAN Setujui RUU Sisdiknas Dengan Tujuh Catatan Strategis Penting
Fraksi PAN Persetujui RUU Sisdiknas dengan Catatan Strategis
Plat Merah – Jakarta – Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR RI secara resmi menyatakan persetujuan terhadap lanjutan pembahasan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas). Namun, persetujuan ini dilengkapi dengan tujuh catatan strategis yang dianggap krusial untuk memastikan regulasi baru mampu menjawab tantangan pendidikan era digital.
Latar Belakang Revisi RUU Sisdiknas
RUU Sisdiknas yang sebelumnya diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 kini direvisi untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital. Revisi ini juga bertujuan mengatasi disparitas akses pendidikan antarwilayah serta memperkuat perlindungan bagi peserta didik dan guru.
Kronologi Pembahasan RUU Sisdiknas
- 2023: Pemerintah mengajukan rancangan revisi UU Sisdiknas ke DPR.
- 2024-2025: Fase konsultasi publik dan kajian awal oleh berbagai lembaga.
- 2026: Fraksi PAN menetapkan tujuh catatan strategis sebagai hasil kajian mendalam.
Tujuh Catatan Strategis Fraksi PAN
| No. | Catatan Strategis | Implikasi |
|---|---|---|
| 1 | Penguatan alokasi anggaran pendidikan minimal 20% APBD | Memperbesar kemandirian daerah dalam pengelolaan pendidikan |
| 2 | Rehabilitasi sarana belajar rusak sebelum ekspansi digital | Menjaga kualitas akses pendidikan dasar |
| 3 | Peningkatan kesejahteraan guru melalui pemisahan sertifikasi PPG | Mempercepat peningkatan kualitas tenaga pendidik |
| 4 | Pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan | Memastikan lingkungan sekolah aman dan nyaman |
| 5 | Penguatan pendidikan karakter dan Pancasila | Menjaga identitas bangsa di tengah globalisasi |
| 6 | Perluasan akses pendidikan untuk madrasah dan pesantren | Menjaga keberagaman sistem pendidikan nasional |
| 7 | Kurikulum adaptif untuk situasi darurat | Memastikan ketahanan pendidikan saat bencana |
Dampak dan Implikasi Kebijakan
Fraksi PAN menyadari bahwa implementasi catatan strategis ini akan memiliki dampak luas bagi berbagai pihak:
- Untuk Pemerintah Daerah: Alokasi 20% APBD untuk pendidikan mungkin memerlukan penyesuaian anggaran dan kreativitas dalam pengelolaan dana.
- Bagi Guru: Pemisahan sertifikasi PPG dari hak penghasilan diharapkan mengurangi beban administratif sambil meningkatkan motivasi profesional.
- Untuk Peserta Didik: Penguatan pendidikan karakter dan pencegahan kekerasan akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan berkelanjutan.
Tantangan Implementasi
Dalam wawancara terpisah, Direktur Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan mengakui bahwa implementasi RUU Sisdiknas akan menghadapi beberapa hambatan, termasuk:
- Ketimpangan kapasitas keuangan antar-daerah.
- Penyelarasan kurikulum adaptif dengan standar nasional.
- Kesiapan infrastruktur digital di daerah terpencil.
Prospek Pendidikan Nasional
Dewi Coryati, Juru Bicara Fraksi PAN, menekankan bahwa RUU Sisdiknas harus menjadi fondasi untuk membangun generasi yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga berakhlak mulia. “Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu menghadapi AI, bukan dikuasai oleh AI,” katanya.
Langkah ini diharapkan mendorong kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar inklusif dan responsif terhadap tantangan global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













