Legislator Pudi Sesalkan Lambannya Respons Eksekutif Bahas Optimalisasi PAD
Plat Merah –
Latar Belakang Permasalahan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan tulang punggung keuangan daerah yang menjadi penopang utama penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik. Namun di Kota Bengkulu, upaya optimasi PAD justru terhambat oleh koordinasi yang kurang harmonis antara DPRD dan pemerintah daerah. Polemik ini menuai keprihatinan dari Pudi Hartono, Ketua Panitia Khusus (Pansus) PAD DPRD Kota Bengkulu, yang mengkritik sikap eksekutif yang dinilai kurang proaktif dalam merespons hasil kajian dan rekomendasi yang telah disusun selama lima bulan terakhir.
Analisis Dampak Lambatnya Respons
Menurut Pudi, keterlambatan respons eksekutif dapat berimplikasi buruk terhadap stabilitas fiskal daerah. “Kalau PAD tidak optimal, anggaran daerah (APBD) akan bergantung pada dana transfer pemerintah pusat. Ini membuat Kota Bengkulu rentan terhadap fluktuasi kebijakan nasional,” ujarnya. Berikut tabel perbandingan PAD Kota Bengkulu dengan beberapa kota sejenis di Sumatera:
| Kota | PAD 2025 (Rp) | PAD 2026 (Rp) | Persentase Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Bengkulu Kota | 1.800.000.000.000 | 1.850.000.000.000 | 2.78% |
| Bandar Lampung | 2.500.000.000.000 | 2.750.000.000.000 | 10% |
| Padang | 1.900.000.000.000 | 2.100.000.000.000 | 10.53% |
| Medan | 3.000.000.000.000 | 3.300.000.000.000 | 10% |
Kronologi Pembentukan Pansus PAD
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 15 Februari 2026 | DPRD mengesahkan pembentukan Pansus PAD. |
| 1-30 Maret 2026 | Pansus melakukan kajian awal terhadap sektor pajak daerah. |
| 1-31 April 2026 | Evaluasi retribusi dan potensi PAD baru diidentifikasi. |
| 1-30 Mei 2026 | Penyusunan rekomendasi awal strategi peningkatan PAD. |
| 1-30 Juni 2026 | Pansus menunggu respons eksekutif, namun belum ada pertemuan serius. |
Rekomendasi Strategis Pansus PAD
Pudi menyebutkan beberapa langkah strategis yang segera harus direalisasikan:
- Pendataan ulang wajib pajak daerah menggunakan teknologi digital untuk menghindari kebocoran.
- Peningkatan kapasitas petugas pajak dengan pelatihan manajemen risiko.
- Penerapan mekanisme insentif bagi wajib pajak yang patuh.
- Pengembangan potensi wisata sebagai sumber PAD baru.
Implikasi bagi Masyarakat dan Industri
Lambatnya optimalisasi PAD berpotensi memperparah beban keuangan daerah. “Kita kehilangan peluang meningkatkan kualitas layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur jalan,” jelas Pudi. Dari sisi industri, kebijakan yang tidak pro-penyiapan PAD dapat menghambat investasi karena ketidakpastian regulasi.
Analisis Ekspert
Economist Institute for Development of Economics and Finance (IDEF) menilai, koordinasi antar lembaga harus menjadi prioritas. “Kolaborasi legislatif dan eksekutif harus dijaga melalui forum konsultatif rutin yang melibatkan pemangku kepentingan,” tandas laporan mereka.
Panggilan untuk Sinergi
Pudi menegaskan, tugas Pansus PAD bukan sekadar investigasi, tetapi juga solusi. “Kami ingin melihat eksekutif proaktif, bukan pasif menunggu. PAD adalah tanggung jawab bersama, tidak boleh diabaikan,” tegasnya. DPRD juga akan mengkaji kembali angka target PAD di APBD Perubahan 2026 jika koordinasi tetap tidak berjalan.
Tantangan Masa Depan
Permasalahan ini mencerminkan kelemahan tata kelola fiskal daerah. Dengan pendapatan asli daerah yang minim, Kota Bengkulu rawan terjebak dalam siklus utang atau bergantung pada dana transfer. Tanpa komitmen bersama, visi pembangunan berkelanjutan justru akan terganjal.
Harapan untuk Perubahan
Tantangan yang dihadapi Pansus PAD menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Masyarakat Kota Bengkulu berharap, melalui sinergi yang lebih baik, pembangunan daerah dapat dipercepat tanpa mengabaikan prinsip keadilan sosial. Hanya dengan kerja sama yang tulus, Kota Bengkulu bisa melangkah maju dalam menghadapi persaingan regional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












