Pengamat Ungkap Kriteria yang Cocok Pimpin NU: Paham Perubahan dan Mampu Eksekusi

Pengamat Ungkap Kriteria yang Cocok Pimpin NU: Paham Perubahan dan Mampu Eksekusi

PlatMerah.com, Jakarta – CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, menegaskan pentingnya memilih pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang memahami perubahan besar dalam tubuh organisasi dan mampu mengeksekusi gagasan untuk masa depan NU. Pernyataan ini disampaikan dalam Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk “Stop Politik Transaksional di Muktamar NU” pada Selasa, 18 Agustus 2026, di Jakarta Pusat.

Perubahan Dinamis dalam NU

Hasanuddin Ali mengamati adanya perubahan signifikan dalam komunitas NU, terutama pertumbuhan generasi muda yang tidak hanya menjadi anggota karena warisan keluarga, tetapi membutuhkan alasan kuat untuk tetap berkontribusi. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan pendidikan warga NU menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin.

Menurut Hasanuddin, banyak anak muda kelahiran 1992 hingga 2010 yang kini menjadi bagian NU, namun mereka menginginkan alasan nyata untuk terus berkomitmen pada organisasi ini. Fenomena ini terutama terlihat di kalangan NU perkotaan.

Pendidikan dan Mobilitas Ekonomi

Hasanuddin menekankan bahwa warga NU saat ini tidak hanya berpendidikan agama, tetapi juga memiliki pendidikan tinggi yang beragam. Selain itu, mobilitas vertikal ekonomi dalam 10 tahun terakhir telah membawa banyak warga NU ke kelas menengah, yang sebelumnya tidak umum.

Peran Perempuan dalam NU

Selain aspek pendidikan dan ekonomi, Hasanuddin juga mendorong pemberian ruang lebih luas bagi kelompok perempuan di NU. Ia menilai peran perempuan sangat penting dan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam struktur organisasi.

Kriteria Pemimpin NU yang Dibutuhkan

Menanggapi perubahan tersebut, Hasanuddin menguraikan tiga kriteria utama yang harus dimiliki oleh calon pemimpin NU:

  1. Pemahaman Mendalam dan Kesadaran Masa Depan: Pemimpin harus memahami situasi NU dan Indonesia, menyadari tantangan serta peluang yang ada, termasuk pertumbuhan kelas menengah dan generasi muda yang semakin urban.
  2. Visi dan Gagasan Relevan: Selain menghargai tradisi, pemimpin harus mampu menawarkan gagasan baru yang sesuai dengan perubahan zaman untuk menjawab kebutuhan NU di masa depan.
  3. Kemampuan Eksekusi: Pemimpin harus mampu mengorkestrasi sumber daya yang ada dan menjalankan ide-ide secara efektif, tidak hanya menjadi “man of ideas” tetapi juga “man of execution”.

Pesimisme terhadap Tren Indonesia

Hasanuddin mengaku memiliki kekhawatiran terhadap tren perkembangan Indonesia yang dinilai bertolak belakang dengan basis tradisional NU yang kuat di pedesaan dan kelompok menengah ke bawah. Hal ini menambah urgensi pemilihan pemimpin yang paham perubahan dan mampu menyesuaikan strategi organisasi.

Implikasi bagi Muktamar NU ke-35

<pDalam konteks Muktamar NU ke-35, pesan Hasanuddin menjadi penting sebagai bahan pertimbangan dalam memilih ketua yang akan memimpin organisasi berusia dua abad tersebut. Pemimpin yang terpilih diharapkan dapat membawa NU menjadi organisasi yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing di era modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup