Gotong Royong TNI dan Warga Percepat Pembangunan Rumah Tidak Layak Huni di Nias Barat
Semangat Gotong Royong Menguatkan Pembangunan RTLH
Plat Merah – Di tengah lanskap hijau Kabupaten Nias Barat, khususnya di Desa Fadoro, Kecamatan Sirombu, semangat gotong royong kembali menjadi tulang punggung pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) Tahap III. Pada Selasa, 7 Juli 2026, Satgas Karya Bakti TNI Angkatan Darat bersama warga setempat mempercepat penyelesaian rumah milik Suriani Hia. Kegiatan hari itu difokuskan pada pemasangan kerangka dan bantalan rumah, yang menandai lonjakan progres menjadi 39 %.
Latar Belakang Program RTLH Karya Bakti 2026
Program RTLH merupakan bagian integral dari agenda Karya Bakti TNI AD 2026, yang bertujuan menjawab kebutuhan hunian layak bagi keluarga kurang mampu sekaligus memperkuat ikatan antara TNI dan masyarakat sipil. Pada tahun 2026, TNI menargetkan pembangunan lebih dari 1.500 unit RTLH di seluruh Indonesia, dengan alokasi anggaran khusus untuk material, tenaga kerja, serta pelatihan ketrampilan bagi warga.
Detail Kegiatan di Desa Fadoro
Berikut rangkaian aktivitas yang dilaksanakan pada hari tersebut:
- Penggalian dan penyiapan lahan: Tim dari Yon TP 903Bs dan Yonzipur 1DD mengawali pagi dengan menyiapkan fondasi rumah.
- Pemasangan kerangka kayu: Babinsa Koramil 09 Sirombu memimpin tim teknis dalam pemasangan balok utama berukuran 6 x 6 meter, memperluas ukuran awal 4 x 6 meter.
- Pemasangan bantalan lantai: Warga desa secara sukarela membantu menata material penahan air dan pasir untuk menjamin kestabilan struktural.
- Evaluasi dan penyesuaian desain: Setelah pemasangan awal, dilakukan pertemuan singkat antara perwakilan TNI, pemerintah desa, dan keluarga penerima manfaat untuk memastikan desain memenuhi standar keamanan.
Data Terstruktur Keterlibatan dan Progres
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Unit RTLH di Nias Barat (target 2026) | 1.520 unit |
| Unit selesai sampai 7 Juli 2026 | 595 unit (39 %) |
| Satgas yang terlibat | Yon TP 903Bs, Yonzipur 1DD, Babinsa Koramil 09 Sirombu |
| Warga yang berpartisipasi (desa Fadoro) | ≈ 45 orang |
| Ukuran rumah (sebelum vs sesudah) | 4 × 6 m → 6 × 6 m |
Kronologi Singkat Kegiatan
- 05 Juli 2026 – Penyuluhan program RTLH di Balai Desa Fadoro, dihadiri tokoh adat dan kepala desa.
- 06 Juli 2026 – Pengiriman material (kayu, semen, batu bata) dari kantor kecamatan ke lokasi.
- 07 Juli 2026 – Pelaksanaan gotong royong: pemasangan kerangka dan bantalan lantai.
- 08 Juli 2026 – Pemeriksaan kualitas oleh inspektur teknis TNI.
- 15 Juli 2026 – Rencana penutupan atap dan pemasangan dinding.
Dampak Langsung Bagi Keluarga Suriani Hia
Suriani Hia, kepala keluarga yang menerima bantuan, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. “Saya tidak menyangka rumah kami mendapat bantuan pembangunan. Terima kasih kepada TNI dan semua pihak yang telah bekerja membantu kami,” ujarnya. Dengan rumah berukuran lebih luas, keluarga berharap dapat menampung tiga anak yang saat ini masih tidur di lantai rumah lama.
Implikasi Lebih Luas bagi Masyarakat Desa
Keberhasilan proyek ini memberikan efek berantai:
- Peningkatan rasa kebersamaan: Warga yang terlibat merasakan nilai solidaritas, yang berpotensi memperkuat jaringan sosial desa.
- Pengembangan ketrampilan: Partisipan belajar teknik dasar konstruksi, yang dapat dimanfaatkan dalam proyek infrastruktur lainnya.
- Stimulus ekonomi lokal: Permintaan material konstruksi meningkatkan pendapatan pedagang bahan bangunan di daerah.
- Kepercayaan terhadap institusi: Kolaborasi TNI‑warga meningkatkan persepsi positif terhadap peran TNI dalam pembangunan sipil.
Tantangan dan Rencana Ke Depan
Walaupun progres sudah signifikan, beberapa tantangan masih harus diatasi, antara lain akses transportasi material ke daerah terpencil, cuaca tropis yang dapat menunda pekerjaan, dan kebutuhan akan tenaga ahli untuk penyelesaian akhir (penutup atap, instalasi listrik). Pemerintah Kabupaten berkomitmen menambah anggaran logistik dan menjadwalkan pelatihan lanjutan bagi warga demi mengurangi ketergantungan pada tenaga militer.
Rencana selanjutnya mencakup penyelesaian atap pada pertengahan Agustus 2026, pemasangan instalasi listrik sederhana, serta penyerahan kunci resmi kepada keluarga Suriani pada akhir September 2026. Jika semua berjalan lancar, rumah tersebut akan menjadi contoh model percontohan RTLH yang dapat direplikasi di desa‑desa tetangga.
Dengan menumbuhkan budaya gotong royong yang didukung oleh aparat keamanan, Nias Barat menunjukkan bahwa sinergi antara militer dan masyarakat sipil dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan, terutama di daerah yang selama ini terpinggirkan dari aliran investasi besar.
Semangat ini tidak hanya menghasilkan dinding baru, tetapi juga menumbuhkan harapan, kebanggaan, dan rasa memiliki yang lebih kuat di antara warga. Seiring proyek RTLH terus berlanjut, kisah Suriani Hia akan menjadi saksi hidup bahwa kolaborasi lintas sektor dapat mengubah realitas hidup menjadi lebih layak dan bermartabat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










