Sekda Kota Batu Ajak Perkuat Sinergi Bangun Daerah

Sekda Kota Batu Ajak Perkuat Sinergi Bangun Daerah

Latar Belakang: Kota Batu di Tengah Tantangan Pembangunan

Plat Merah – Kota Batu, yang dikenal sebagai kota wisata dengan iklim sejuk dan pesona alam yang menarik, tengah menghadapi dinamika pembangunan yang kompleks. Kota kecil di Jawa Timur ini, yang memiliki kawasan pegunungan dan potensi agraris, belakangan menjadi pusat perhatian akibat tantangan koordinasi antarinstansi pemerintahan, sektor swasta, dan warga. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu, Alfi Nurhidayat, melihat hal ini sebagai peluang untuk memperkuat sinergi pembangunan daerah.

Profil Alfi Nurhidayat: Pemimpin dengan Visi Kolaboratif

Alfi Nurhidayat, yang resmi menjabat sebagai Sekda Kota Batu pada 2026, memiliki rekam jejak sebagai birokrat yang fokus pada pemberdayaan masyarakat. Sebelumnya, ia pernah memimpin program pemberdayaan UMKM di Malang dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Jawa Timur. Gaya kepemimpinannya yang transformatif dan terbuka terhadap masukan, menurut kritikus, menjadi kunci untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan.

Komunikasi Intensif Sebagai Solusi

Dalam wawancara terpisah, Alfi menekankan pentingnya komunikasi intensif antarinstansi. “Kita harus meredam ego sektoral dan fokus pada tujuan bersama,” katanya. Pernyataan ini mengacu pada kritik terhadap kinerja pemerintah daerah sebelumnya, yang dinilai lambat dalam merespons keluhan warga soal infrastruktur jalan dan layanan kesehatan.

Rencana Aksi Sinergi

  • Forum Koordinasi Multisektor: Membentuk forum bulanan yang melibatkan perangkat daerah, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat.
  • Pelaporan Realtime: Sistem digital untuk memantau progres proyek pembangunan secara terbuka.
  • Kampanye Partisipatif: Menyulam kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam pengawasan pelayanan publik.

Peran Media dalam Dinamika Pembangunan

Alfi juga melihat media sebagai mitra strategis. “Media bukan sekadar penyampai informasi, tapi juga pelaku pengawasan yang konstruktif,” ujarnya. Ia mencontohkan kolaborasi dengan media lokal dalam mengungkap ketimpangan anggaran di proyek jalan tahun 2025, yang berujung pada revisi alokasi dana.

Kronologi Isu Pembangunan di Kota Batu

TahunIsu UtamaCapaian
2023Kurangnya koordinasi antarSKPD15 proyek mandeg akibat perizinan tidak harmonis
2024Keluhan warga soal layanan kesehatanPembangunan 2 puskesmas baru
2025Kritik terhadap transparansi anggaranPenyusunan SOP transparansi anggaran
2026Kebijakan sinergi nasionalSekda luncurkan program forum koordinasi

Dampak Potensial dan Tantangan

Kebijakan Alfi diproyeksikan meningkatkan indeks kinerja pemerintah daerah (IKP) hingga 20% dalam 3 tahun. Namun, tantangan utama terletak pada resistensi birokrat lama terhadap perubahan. Selain itu, partisipasi masyarakat yang fluktuatif, terutama di kawasan perdesaan, menjadi risiko yang perlu ditangani.

Prospek Kota Batu di Era Kolaborasi

Dengan pendekatan bottom-up yang diusung Alfi, Kota Batu berpotensi menjadi model pembangunan daerah berbasis sinergi. Keberhasilan ini akan bergantung pada keberanian memutus praktik birokrasi yang stagnan sekaligus membangun kepercayaan antara pemerintah dan warga. Kota yang kaya akan destinasi seperti Jatim Park dan Museum Angkut ini, bisa saja menjadi laboratorium inovasi pemerintahan partisipatif di Indonesia.

Dengan visi yang jelas dan kesiapan berkolaborasi, Alfi Nurhidayat memberikan harapan baru bagi Kota Batu. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kisah Kota Batu mungkin menjadi bukti bahwa pembangunan yang inklusif dan transparan mampu mengubah wajah daerah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup