Disperindag Pariaman Dorong Kewirausahaan Rumah Tangga lewat Pelatihan Membatik Cap

Disperindag Pariaman Dorong Kewirausahaan Rumah Tangga lewat Pelatihan Membatik Cap

Plat Merah – Padang – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindag) Kota Pariaman kembali menunjukkan komitmen nyata dalam menggerakkan ekonomi kreatif lokal. Selama lima hari, 20 peserta dari berbagai kecamatan mengikuti pelatihan Membatik Cap yang tidak hanya menekankan teknik produksi, melainkan juga membangun pola pikir wirausaha bagi rumah tangga berpendapatan rendah.

Latar Belakang dan Kebijakan Pemerintah

Visi‑misi Pemerintah Kota Pariaman menitikberatkan pada program unggulan Satu Rumah Satu Industri Rumah Tangga. Inisiatif ini dirancang untuk mengubah peran tradisional warga yang selama ini menjadi konsumen pasif menjadi produsen kreatif yang mandiri secara finansial. Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menegaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan target pembangunan berkelanjutan (SDGs) khususnya pada penciptaan pekerjaan layak dan pengentasan kemiskinan.

Pelaksanaan Pelatihan Membatik Cap

Pelatihan dilaksanakan dari 7 hingga 11 Juli 2026 di Balai Desa Setempat. Deddy Kurnia Ilahi, Plt. Kepala Dinas Disperindag dan UKM, menjelaskan bahwa materi mencakup:

  • Pengenalan sejarah batik Pariaman, termasuk motif tradisional “Sampan”.
  • Teknik pembuatan cap, penggunaan canting, pemilihan warna, serta proses finishing.
  • Manajemen usaha rumah tangga: perencanaan produksi, pemasaran, dan pencatatan keuangan.

Setiap peserta juga menerima paket peralatan lengkap: canting cap, meja kerja, wajan, kompor portable, kain batik, pewarna alami, waterglass, dan soda ash. Bantuan ini diharapkan mengurangi hambatan modal awal bagi calon pengrajin.

Jadwal Kegiatan (5 Hari)

HariMateriKegiatan Praktik
Hari I (7 Jul)Pengenalan batik tradisional PariamanObservasi motif Sampan, diskusi nilai budaya
Hari II (8 Jul)Teknik pembuatan capPembuatan cetakan, uji coba pada kain
Hari III (9 Jul)Pemilihan warna & pewarnaanPencampuran pewarna alami, pengaplikasian
Hari IV (10 Jul)Finishing & quality controlPenggunaan waterglass, perawatan kain
Hari V (11 Jul)Manajemen usaha & pemasaranPenyusunan rencana bisnis, simulasi penjualan

Kronologi Kegiatan

  1. 07/07/2026 – Registrasi peserta, pembukaan resmi oleh Wali Kota Yota Balad.
  2. 08/07/2026 – Demonstrasi teknik cap oleh instruktur senior, peserta mulai praktek mandiri.
  3. 09/07/2026 – Sesi pewarnaan, penggunaan bahan baku lokal yang ramah lingkungan.
  4. 10/07/2026 – Evaluasi kualitas, diskusi perbaikan desain.
  5. 11/07/2026 – Penyusunan rencana usaha, penutupan dan penyerahan paket peralatan.

Dampak dan Implikasi Bagi Berbagai Pihak

Bagi Peserta: Dengan bantuan peralatan dan pengetahuan teknis, mereka dapat memulai usaha mikro di rumah. Prediksi pendapatan tambahan berkisar antara Rp1,5‑2 juta per bulan, cukup untuk menambah kesejahteraan keluarga.

Bagi Pemerintah Kota: Program ini memperkuat citra Pariaman sebagai pusat batik tradisional yang modern. Rencana anggaran tahun 2027 mencakup penyediaan seragam batik gratis untuk semua siswa SD, yang sekaligus menjadi sarana promosi.

Bagi Industri Kreatif Lokal: Munculnya produsen batik skala rumah tangga meningkatkan pasokan bahan baku dan diversifikasi desain, membuka peluang kolaborasi dengan desainer fashion regional.

Lingkungan: Penggunaan pewarna alami dan proses produksi yang tidak memerlukan mesin berat menurunkan jejak karbon, sejalan dengan agenda hijau pemerintah.

Tantangan dan Prospek Kedepan

  • Pasar – Persaingan dengan produk massal membutuhkan strategi branding yang kuat.
  • Modal Lanjutan – Beberapa peserta mengaku masih membutuhkan modal tambahan untuk bahan baku dalam kuantitas lebih besar.
  • Distribusi – Pengembangan kanal penjualan daring dan kerjasama dengan toko oleh‑oleh menjadi langkah berikutnya.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Disperindag berencana mengadakan pelatihan lanjutan tentang digital marketing dan akses permodalan mikro melalui program Bank Desa.

Penutup

Pelatihan Membatik Cap yang digelar oleh Disperindag Koperasi dan UKM Pariaman bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya strategis mengubah paradigma ekonomi rumah tangga di kota ini. Dengan dukungan perangkat, pengetahuan bisnis, dan komitmen pemerintah, harapan besar bahwa motif “Sampan” akan melintasi batas geografis, menambah pendapatan keluarga, sekaligus melestarikan warisan budaya Pariaman untuk generasi mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup