Sony Tolak Terbitkan Demon’s Souls di Amerika Utara, FromSoftware Justru Ciptakan Fenomena Dark Souls

Sony Tolak Terbitkan Demon's Souls di Amerika Utara, FromSoftware Justru Ciptakan Fenomena Dark Souls

PlatMerah.com – Mantan eksekutif Sony Interactive Entertainment, Shuhei Yoshida, mengungkapkan bahwa keputusan Sony untuk tidak menerbitkan Demon’s Souls di Amerika Utara menjadi titik balik yang melahirkan fenomena Dark Souls. Kini, waralaba tersebut dan Elden Ring menjadi salah satu seri paling sukses di industri gim.

Dalam pidato kunci di konferensi CEDEC 2026 di Jepang, Yoshida menceritakan pengalamannya bekerja di puncak bisnis gim Sony. Saat itu, Sony menerbitkan Demon’s Souls di Jepang, tetapi menolak membawanya ke pasar Amerika Utara. Keputusan ini akhirnya membuka jalan bagi FromSoftware untuk bermitra dengan Bandai Namco, yang kemudian menerbitkan Dark Souls pada 2011 dan meraih kesuksesan besar.

Keputusan Sony yang Berubah Menjadi Peluang

Menurut laporan 4Gamer yang diterjemahkan oleh Automaton, Yoshida mengungkapkan bahwa Demon’s Souls hanya terjual sekitar 20.000 kopi pada peluncuran awalnya di Jepang. Angka tersebut tidak cukup untuk menutup biaya pengembangan. Yoshida sendiri sempat mencoba gim tersebut pada 2008, setahun sebelum rilis, dan gagal membuat kemajuan berarti setelah dua jam bermain. Ia menggambarkan pengalamannya dengan kalimat, “what an unfriendly game” (gim yang tidak ramah).

Namun, Demon’s Souls justru meraih penjualan kuat dan rekomendasi dari mulut ke mulut di Jepang setelah dirilis. Atlus dan Bandai Namco kemudian menangani distribusi gim tersebut di wilayah lain. Menyadari potensi FromSoftware, Sony menawarkan untuk menerbitkan gim berikutnya, Dark Souls. Namun, tawaran itu datang terlambat. FromSoftware menolak karena kurangnya dukungan Sony terhadap Demon’s Souls.

Dampak Besar bagi Industri Gim

Keputusan tersebut mengubah lanskap industri gim. Bandai Namco kemudian menerbitkan Dark Souls, Elden Ring, dan seri Armored Core. Kesuksesan luar biasa ini membuat FromSoftware menjadi studio yang sangat dihormati. Yoshida sendiri mengaku bahwa dirinya percaya keputusan tersebut justru membawa hasil yang lebih baik bagi industri dan para pemain.

“Saya ingin percaya—meskipun mungkin hanya angan-angan—bahwa ketidakterlibatan kami pada akhirnya membawa hasil yang lebih baik bagi industri gim dan para gamer,” ujar Yoshida.

Sony kemudian kembali bekerja sama dengan FromSoftware untuk Bloodborne pada 2015, yang menjadi salah satu gim terbaik di katalog PlayStation. Namun, gim tersebut tetap eksklusif di PS4. Jika Sony memiliki hubungan yang lebih kuat dengan FromSoftware sejak awal, mungkin studio tersebut tidak akan pernah meninggalkan PlayStation, dan dunia PC gaming akan kehilangan banyak judul ikonik.

Konteks dan Analisis

Kisah ini menunjukkan bagaimana keputusan bisnis yang tampak pragmatis dapat berdampak besar pada arah industri. Penolakan Sony terhadap Demon’s Souls di Amerika Utara tidak hanya mengubah hubungan mereka dengan FromSoftware, tetapi juga membuka pasar baru bagi Bandai Namco. Dark Souls dan Elden Ring kini menjadi tolok ukur dalam genre action RPG, dan jutaan pemain di seluruh dunia menikmati karya-karya tersebut.

Bagi para penggemar, kisah ini menjadi pelajaran bahwa keputusan yang diambil di ruang rapat dapat mengubah sejarah. Tanpa keputusan tersebut, mungkin kita tidak akan pernah melihat Dark Souls di PC atau Elden Ring yang mendunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup