JK Nilai Pesantren Harus Lebih Modern Seimbangkan Akhlak, Ilmu, dan Teknologi
PlatMerah.com, Jakarta – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), menegaskan pentingnya modernisasi pendidikan pesantren dengan menyeimbangkan aspek akhlak, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Gala Dinner Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.
Pentingnya Keseimbangan Akhlak, Ilmu, dan Teknologi
JK menilai pendidikan pesantren harus terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai akhlak. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara akhlak, kemampuan kecerdasan, ilmu, dan teknologi menjadi kunci dalam menciptakan pendidikan yang holistik.
“Pendidikan pesantren sebelumnya telah bertransformasi dari sistem tradisional menuju model modern yang mengintegrasikan pendidikan umum. Namun, kebutuhan era sekarang menuntut penyesuaian lebih lanjut agar ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadi bagian utama,” ujar JK.
Konsep Pendidikan Holistik
Menurut JK, pendidikan tidak hanya soal kemampuan berpikir, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan keterampilan praktis. Ia menjelaskan konsep tiga aspek penting dalam pendidikan, yaitu kepala (head), hati (heart), dan tangan (hand).
- Kepala: Kemampuan berpikir dan kecerdasan.
- Hati: Pembentukan akhlak dan karakter.
- Tangan: Keterampilan dan kemampuan praktik.
Ketiga aspek tersebut harus dikembangkan secara seimbang agar peserta didik mampu menghadapi tantangan masa depan secara komprehensif.
Pengurangan Metode Menghafal dan Penguatan Logika
JK juga menyoroti perlunya perubahan metode pembelajaran di pesantren. Ia menyampaikan bahwa ketergantungan pada metode menghafal harus dikurangi, mengingat kemudahan akses informasi melalui internet dan kecerdasan buatan.
“Di era digital ini, menghafal tidak lagi menjadi kebutuhan utama. Yang penting adalah mengembangkan logika, ilmu pengetahuan, dan penguasaan teknologi,” jelas JK.
Oleh karena itu, JK menekankan pentingnya fasilitas yang mendukung praktik, diskusi, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis di lingkungan pesantren.
Peran Guru sebagai Fasilitator
Transformasi pendidikan pesantren juga mencakup perubahan peran guru. JK mengungkapkan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar materi, tetapi juga menjadi fasilitator yang membantu peserta didik mengembangkan potensi mereka melalui metode pembelajaran aktif.
Pendidikan Agama dan Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Meski pendidikan agama tetap menjadi fondasi dalam membentuk akhlak dan keimanan, JK menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pendorong kemajuan bangsa.
“Pendidikan agama penting untuk membentuk akhlak dan keimanan, tetapi untuk maju, kita harus menguasai ilmu dan teknologi,” tambahnya.
Dukungan Fasilitas dan Investasi Pemerintah
JK menggarisbawahi perlunya dukungan fasilitas dan investasi dari pemerintah agar pendidikan pesantren dapat memberikan ruang tidak hanya untuk memperoleh pengetahuan tetapi juga mengembangkan keterampilan melalui praktik.
“Pendidikan harus didukung oleh fasilitas lengkap seperti laboratorium, ruang kerja, dan ruang praktik. Pemerintah juga harus berinvestasi untuk mendukung pengembangan pendidikan holistik ini,” ujarnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













