Hizbullah Bombardir Utara Israel: Serangan Drone, Roket, dan Balasan Israel Memanas

Hizbullah Bombardir Utara Israel: Serangan Drone, Roket, dan Balasan Israel Memanas

Plat MerahHizbullah bombardir utara Israel [titlebase] dalam gelombang serangan paling intens sejak konflik merebak kembali pada awal Maret, menewaskan satu tentara Israel dan memicu serangkaian balasan udara yang menargetkan wilayah selatan Beirut. Serangan ini menandai eskalasi terbaru di perbatasan Lebanon-Israel, dengan penggunaan drone berisi bahan peledak, roket, serta tembakan artileri yang menimpa instalasi militer dan pemukiman sipil.

Menurut laporan militer Israel, pada 31 Mei 2026, seorang sersan berusia 21 tahun, Michael Tyukin, tewas akibat drone peledak yang diluncurkan Hizbullah dari Lebanon selatan. Kematian Tyukin meningkatkan total korban militer Israel sejak awal Maret menjadi 25 orang, terdiri dari 24 tentara dan satu kontraktor sipil. Pada hari yang sama, tentara Israel juga melaporkan berhasil mencegat sebuah pesawat tak dikenal di daerah Zar’it, Israel utara, serta menemukan objek mencurigakan yang memicu sirine peringatan di sejumlah kota perbatasan, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Hizbullah mengklaim telah melancarkan 24 serangan pada Sabtu, 28 Mei 2026, yang mencakup roket, tembakan artileri, dan drone. Target utama meliputi lima tank Merkava, sebuah buldoser militer, serta infrastruktur militer di kota Safed, Nahariya, dan Karmiel. Selain itu, kelompok tersebut menembakkan roket ke pemukiman Kiryat Shmona di Israel utara, menambah tekanan pada warga sipil yang harus berlari ke tempat perlindungan. Menurut Channel 12 Israel, setidaknya 15 proyektil berhasil menembus perbatasan, sementara puluhan lainnya gagal atau hanya memicu peringatan sirene di lebih dari 30 lokasi.

Balasan Israel tidak kalah intens. Pada 28 Mei, militer Israel melakukan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut, menargetkan fasilitas yang diduga menjadi basis operasional Hizbullah. Serangan tersebut menewaskan beberapa anggota milisi, meski tidak ada laporan korban sipil yang signifikan. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menekankan perlunya tindakan keras, menyatakan bahwa setiap drone yang menabrak tentara Israel harus diimbangi dengan penghancuran puluhan bangunan di Dahiyeh, Beirut.

Data korban sejak 2 Maret menunjukkan lebih dari 3.200 orang tewas dan 9.600 luka di Lebanon, dengan lebih dari 1,6 juta warga mengungsi. Di sisi lain, Israel melaporkan bahwa sejak gencatan senjata yang dimediasi AS pada 17 April dan diperpanjang hingga awal Juli, serangan harian tetap berlanjut, menandakan kegagalan perjanjian untuk menahan permusuhan.

  • Korban militer Israel: 25 orang (24 tentara, 1 kontraktor)
  • Korban total sejak Maret: >3.200 jiwa (Lebanon)
  • Serangan drone Hizbullah: lebih dari 30 unit terdeteksi
  • Roket yang menabrak Kiryat Shmona: beberapa kali dalam 24 jam

Analisis para pengamat menilai bahwa Hizbullah bombardir utara Israel [titlebase] merupakan taktik balasan terhadap operasi Israel yang menargetkan infrastruktur militer di Lebanon, khususnya di sekitar kota Tyre. Sementara itu, Israel berupaya menekan Hizbullah dengan serangan udara yang semakin meluas, termasuk pengeboman di daerah Dahiyeh dan zona penempatan militer di al-Jalil Barat.

Negosiasi damai yang dijadwalkan pada awal Juni antara kedua negara di Washington belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Jika gencatan senjata tidak dihormati, risiko eskalasi ke konflik berskala lebih luas tetap tinggi, mengancam stabilitas regional.

Hizbullah bombardir utara Israel [titlebase] kini menjadi sorotan internasional, dengan komunitas global menuntut langkah diplomatik untuk mencegah perang yang lebih meluas. Namun, hingga kini, kedua belah pihak tampak tetap berpegang pada strategi militer masing-masing, memperpanjang penderitaan warga sipil di kedua sisi perbatasan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup