Strategi Jitu Menghentikan Pelemahan IHSG dan Rupiah, Apa Langkah Pemerintah?
Plat Merah – Jakarta – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian serius pemerintah dan pelaku pasar. Pertanyaan besar yang mengemuka adalah: bagaimana agar IHSG dan rupiah tidak terus melemah? Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, namun persepsi negatif yang tidak akurat menjadi biang kerok gejolak pasar.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG anjlok 4,20% ke level 5.594, sementara rupiah tembus Rp18.036 per dolar AS. Purbaya mengaku bingung dengan tekanan berkelanjutan ini. “Saya juga agak bingung sebenarnya apa yang terjadi. Jadi kelihatannya kesan bahwa fiskal kurang baik pelaksanaannya,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa.
Menurut Purbaya, rumor defisit APBN yang melampaui batas 3% PBD menjadi pemicu utama. Defisit Maret tercatat 0,9%, yang jika dikalikan empat dianggap melampaui batas. Padahal, setelah berdiskusi dengan lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P), mereka menilai fiskal Indonesia masih bagus. “Dari situ orang-orang bilang berarti ekonominya morat-marit, investor akan keluar karena lembaga pemeringkat akan mendowngrade kita. Tapi waktu saya tanya ke S&P, oh sudah bagus,” jelasnya.
Kondisi ini memunculkan urgensi untuk mencari solusi atas bagaimana agar IHSG dan rupiah tidak terus melemah. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berkomitmen memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Purbaya menekankan, “Itu (persepsi negatif) yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan Bank Sentral.”
Dari sisi investor, Sinarmas Sekuritas merekomendasikan strategi fast trade atau swing trade untuk memanfaatkan technical rebound. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menyarankan, “Kalau IHSG terkoreksi 2-4%, swing trade bisa dilakukan dengan ekspektasi rebound jangka pendek. Untuk hold, cicil beli bertahap, jangan all cash.” Bagi investor yang sudah mengalami floating loss besar, cut loss bisa menjadi opsi tergantung daya tahan.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai tekanan saat ini lebih disebabkan faktor eksternal. “Yang perlu dipahami adalah bahwa kondisi saat ini merupakan fase penyesuaian terhadap dinamika global, bukan sinyal krisis. Optimisme rasional berdasarkan data fundamental perlu dijaga,” ujarnya. Indikator seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi terkendali, konsumsi rumah tangga solid, dan aliran modal asing ke SBN yang positif menunjukkan ketahanan ekonomi.
Purbaya menambahkan, APBN masih kuat dengan belanja negara hingga Mei mencapai Rp1.365,4 triliun, tumbuh 34,4% year-on-year. Aktivitas ekonomi di berbagai daerah tetap meningkat. “Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus,” tegasnya.
Untuk menjawab bagaimana agar IHSG dan rupiah tidak terus melemah, diperlukan sinergi kebijakan yang solid antara pemerintah dan BI, serta edukasi kepada publik untuk tidak terjebak sentimen negatif. Investor pun disarankan menerapkan strategi investasi yang disiplin, seperti averaging down atau cut loss sesuai profil risiko. Dengan fundamental yang kuat, optimisme pasar diharapkan pulih.
Pemerintah berjanji akan terus mengklarifikasi mispersepsi dan memperkuat komunikasi dengan pasar. Langkah konkret seperti pertemuan dengan DPR dan BI telah dilakukan. Semua pihak berharap kombinasi kebijakan fiskal yang hati-hati dan moneter yang akomodatif mampu mengembalikan kepercayaan investor. Pada akhirnya, kunci utama adalah menghilangkan persepsi negatif yang tidak berdasar dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.









