Pasar Saham Indonesia Terpuruk: Investor Asing Kabur Rp61 Triliun, Menkeu Bantah Krisis 1998

Pasar Saham Indonesia Terpuruk: Investor Asing Kabur Rp61 Triliun, Menkeu Bantah Krisis 1998

Plat Merah – Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan berat sepanjang tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hingga 34,82% secara year-to-date (YTD) per awal Juni, menjadikannya salah satu bursa dengan kinerja terburuk di dunia. Fenomena jual besar-besaran oleh investor asing, yang mencapai net sell Rp61,36 triliun hingga Jumat (5/6/2026), memicu kekhawatiran akan kembalinya krisis seperti 1998. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan situasi saat ini tidak sebanding dengan krisis dua dekade lalu.

Investor Asing Hengkang, IHSG Terkoreksi Dalam

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa nilai net sell asing pada 2026 telah melonjak tiga kali lipat dibandingkan total net sell tahun 2025 yang sebesar Rp17,34 triliun. Bahkan, angka ini menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir. Pada 2024, investor asing justru mencatatkan net buy Rp16,52 triliun. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa IHSG ditutup di level 6.127,38 pada akhir Mei 2026, terkoreksi 11,29% secara bulanan. Tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk ketidakpastian kebijakan moneter global, perlambatan ekonomi China, serta kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah seperti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menkeu Purbaya: Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Menanggapi tren negatif di pasar saham, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta investor tidak terbawa sentimen jangka pendek. Dalam kunjungannya ke Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (6/6/2026), ia menegaskan bahwa kondisi fiskal dan ekonomi nasional dalam keadaan baik. “Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus. Hanya ada sentimen negatif yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” ujarnya. Purbaya juga mengkritik tulisan yang memicu fenomena “Sell Indonesia” karena dinilai tidak menggambarkan kondisi Indonesia secara utuh. Ia mengajak pelaku pasar untuk melihat data fundamental, seperti percepatan APBN yang menunjukkan kesehatan fiskal.

Sentimen Domestik Menekan IHSG

Analis pasar modal, Ferry Latuhihin, menilai arus keluar dana asing dipicu oleh kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah yang kurang ramah investor, terutama terkait pembentukan Danantara. Menurutnya, model bisnis badan baru itu berpotensi menimbulkan risiko bagi eksportir dan pembeli komoditas Indonesia. Di sisi lain, OJK mencatat bahwa tekanan di pasar saham domestik juga dipengaruhi oleh aksi jual investor asing sebesar Rp4,1 triliun secara bulanan pada Mei 2026. Meski demikian, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebutkan bahwa faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi China dan resiliensi ekonomi AS turut memicu volatilitas aliran modal ke negara berkembang.

Dividen MEDC dan Antrean IPO: Sisi Positif di Tengah Tekanan

Di tengah keterpurukan pasar saham, masih ada kabar positif. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) akan membagikan dividen tunai final sebesar USD45 juta atau USD0,0018 per saham pada 3 Juli 2026. Sebelumnya, perseroan telah membagikan dividen interim USD42 juta pada November 2025. Selain itu, OJK melaporkan bahwa terdapat 15 perusahaan yang antre untuk melaksanakan initial public offering (IPO) dengan potensi dana Rp3,67 triliun. Total pipeline penawaran umum mencapai 75 rencana dengan nilai Rp56,93 triliun, menandakan minat emiten untuk menggalang dana di bursa masih ada.

Kesimpulan

Pasar saham Indonesia saat ini berada dalam fase tekanan berat, ditandai dengan aksi jual besar-besaran investor asing dan koreksi IHSG yang dalam. Meskipun pemerintah dan OJK berupaya meyakinkan pasar bahwa fundamental ekonomi kuat, sentimen negatif masih mendominasi. Namun, adanya rencana IPO dan pembagian dividen dari emiten seperti MEDC menunjukkan bahwa aktivitas korporasi masih berjalan. Ke depan, koordinasi antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan bank sentral menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor dan mengembalikan stabilitas pasar saham Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup