Pemilik Kendaraan Pindah ke Pertalite Imbas Harga Pertamax Naik, Begini Jawaban Kementerian ESDM

Pemilik Kendaraan Pindah ke Pertalite Imbas Harga Pertamax Naik, Begini Jawaban Kementerian ESDM

Plat Merah – Pemilik kendaraan pindah ke Pertalite imbas harga Pertamax naik, begini jawaban Kementerian ESDM. Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada awal Juni 2026 memicu gelombang peralihan konsumen ke Pertalite yang harganya tetap Rp10.000 per liter. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan sekitar 10 persen pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite, berdasarkan pengalaman kenaikan serupa pada April 2022.

Fenomena ini terlihat jelas di lapangan. Di sejumlah SPBU di Bandung, antrean kendaraan untuk membeli Pertalite mengular hingga ke luar area SPBU. Salah satu pengendara motor, Asep Sopian (42), warga Cicalengka, mengaku sebelumnya menggunakan Pertamax namun kini beralih ke Pertalite karena harganya yang lebih terjangkau. “Saya gunakan Pertamax sebelumnya, harganya naik hampir empat ribu, mikir lagi, jadi pindah ke Pertalite,” ujarnya. Ia harus mengantre sekitar 20-30 menit untuk mendapatkan Pertalite. Sementara itu, di pompa Pertamax, suasana justru sepi tanpa antrean.

Pemilik kendaraan pindah ke Pertalite imbas harga Pertamax naik, begini jawaban Kementerian ESDM terkait dampak ekonomi. Menurut Yayan, kenaikan ini memberikan beban tambahan bagi pemilik mobil yang mengisi 100 liter per bulan, yaitu sekitar Rp395.000 per bulan. Sementara pengendara motor dengan konsumsi 30 liter per bulan harus menambah sekitar Rp119.000. Namun, Yayan menegaskan bahwa kuota Pertalite masih mencukupi untuk menampung perpindahan ini, hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai.

Dampak kenaikan juga dirasakan berbeda antar lapisan masyarakat. Kelompok rumah tangga termiskin (Desil 1) hampir tidak terpengaruh karena jarang menggunakan Pertamax. Kelas menengah (Desil 5-7) diperkirakan sebagian akan beralih ke Pertalite. Sementara kelompok menengah atas (Desil 8-9) sebagai pengguna mobil reguler akan mengalami kenaikan biaya. Rumah tangga terkaya (Desil 10) justru menanggung beban terbesar, karena mereka adalah konsumen utama Pertamax. Yayan menyimpulkan bahwa sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya, seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu.

Menariknya, kenaikan harga Pertamax juga mendorong sebagian pemilik mobil beralih menggunakan sepeda motor untuk aktivitas harian. Manajer Public Relations Yamaha Indonesia, Rifki Maulana, menilai peluang ini tetap terbuka. “Mungkin kalau bicara kemungkinan pasti bisa saja ya. Kemungkinan itu pasti ada,” katanya. Yamaha berupaya menjaga daya tarik produknya melalui kualitas dan fitur yang sesuai kebutuhan konsumen.

Pemilik kendaraan pindah ke Pertalite imbas harga Pertamax naik, begini jawaban Kementerian ESDM: pihaknya memastikan bahwa distribusi Pertalite berjalan normal dan tidak ada kelangkaan. Masyarakat diimbau untuk menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan. Kementerian ESDM juga menegaskan bahwa armada perusahaan serta kendaraan operasional perkebunan dan tambang dilarang menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite, sehingga kuota tetap terjaga untuk masyarakat umum.

Dengan selisih harga yang mencapai Rp6.250 per liter, terlebar dalam sejarah, perpindahan konsumen ke Pertalite diperkirakan akan terus berlanjut. Namun, pemerintah optimistis pasokan tetap aman. Pemilik kendaraan pindah ke Pertalite imbas harga Pertamax naik, begini jawaban Kementerian ESDM: kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menyesuaikan harga BBM dengan kondisi pasar, sambil tetap melindungi masyarakat melalui subsidi tepat sasaran. Ke depan, diharapkan masyarakat dapat beradaptasi dengan harga baru dan menggunakan energi secara lebih efisien.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup