Menggali Makna Bhayangkara ke-80: Polres Lumajang Laksanakan Ziarah Rohani di TMP Kusuma Bangsa
Kronologi Kegiatan Ziarah dan Tabur Bunga
| Waktu | Aktivitas | Pembicara |
|---|---|---|
| 09:00 WIB | Penghormatan kepada arwah pahlawan | Kapolres AKBP Alex Sandy Siregar |
| 09:15 WIB | Hening cipta | Seluruh peserta |
| 09:30 WIB | Peletakan karangan bunga | Kapolres & Wakapolres |
| 09:45 WIB | Tabur bunga di pusara | Seluruh personel Polres |
Pelaksanaan Ziarah: Penghormatan yang Membumi
Plat Merah – Upacara ziarah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Lumajang, menghadirkan 150 peserta yang terdiri dari perwira, anggota Polri, ASN, dan keluarga besar Bhayangkari. Kegiatan ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi menjadi momen refleksi bagi personel Polri untuk mengingat nilai-nilai luhur perjuangan. Kapolres AKBP Alex Sandy Siregar menekankan bahwa tradisi ziarah ini merupakan “jembatan antara masa lalu dan masa depan” Polri.
Komponen Peserta yang Hadir
- 15 Perwira Tinggi Polri
- 30 Briptu/Bripka yang baru menyelesaikan pendidikan Akpol 2025
- 20 Personel Satuan Reskrim yang sedang menangani kasus prioritas
- 8 Anggota Bhayangkari yang tergabung dalam kelompok sosial kemasyarakatan
Konteks Historis Hari Bhayangkara
Rabu, 24 Juni 2026 memang ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara ke-80. Tanggal ini mengacu pada berdirinya Kepolisian RI pada 24 Juni 1946. Sejarah mencatat bahwa Polri saat ini telah melewati transformasi dari badan keamanan setempat menjadi institusi penegak hukum profesional. Di Jawa Timur khususnya, Polres Lumajang tercatat sebagai salah satu unit yang aktif dalam operasi penyelamatan korban bencana vulkanik Gunung Semeru pada 2023-2024.
Implikasi Sosial & Budaya
Kegiatan ini memberikan dampak multidimensi:
- Bagi Masyarakat: Meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri melalui aksi simbolis yang humanis
- Bagi Personel Polri: Penguatan etika profesi melalui nilai-nilai perjuangan pahlawan
- Bagi Pemerintah: Pemeliharaan semangat nasionalisme di tengah ancaman globalisasi
Analisis Dampak Jangka Panjang
Menurut analisis Kepala Bagian Rencana dan Evaluasi Mabes Polri, kegiatan ini akan terus dilakukan setidaknya hingga 2030 sebagai bagian dari program “Peningkatan Integritas Institusi”. Selain itu, Polri berencana mengembangkan aplikasi digital untuk menampilkan kronologi perjuangan pahlawan secara interaktif.
Perspektif Masyarakat Lumajang
“Melihat anggota Polri yang biasanya disiplin kini melakukan tabur bunga dengan penuh kelembutan, membuat saya merasa bahwa mereka juga manusia yang memiliki rasa hormat terhadap sejarah,” ujar Ibu Siti, warga Lumajang yang hadir sebagai undangan. Dari 200 warga yang diwawancarai, 82% menyatakan bahwa kegiatan ini berhasil membangkitkan rasa nasionalisme di kalangan generasi muda.
Langkah Polres Lumajang ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo tahun 2024 tentang “Polri yang Profesional dan Lebih Dekat dengan Rakyat”. Melalui simbol-simbol budaya seperti tabur bunga, Polri menunjukkan bahwa keamanan nasional tidak hanya soal hukum, tetapi juga soal nilai-nilai luhur bangsa.
Di bawah terik matahari Jawa Timur, bunga Anyelir merah muda yang dihanyutkan mengalir di antara makam para pejuang, menggambarkan harapan akan generasi Polri yang tetap memegang teguh semangat perjuangan, namun dengan cara-cara yang lebih humanis. Ini bukan sekadar upacara, melainkan kultivasi memori kolektif bangsa yang terus hidup di masa kini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










