Kebakaran Gunung Gede Pangrango Belum Padam, Polisi Terjunkan Pleton Bawa APAR

Kebakaran Gunung Gede Pangrango Belum Padam, Polisi Terjunkan Pleton Bawa APAR

PlatMerah.com, Jawa Barat – Kebakaran lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, masih berlangsung hingga saat ini. Puluhan personel gabungan, termasuk polisi dan relawan, terus berupaya memadamkan kobaran api yang telah menghanguskan sekitar 15 hektare area sejak Kamis (6/8) lalu.

Situasi dan Tantangan Pemadaman

Relawan dan petugas menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemadaman api. Minimnya peralatan yang memadai serta kondisi fisik yang mulai kelelahan menjadi hambatan utama. Para relawan, termasuk anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), masih bertahan di lokasi dengan peralatan seadanya seperti batang kayu dan kain basah.

Selain itu, keterbatasan pasokan makanan dan minuman serta medan yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman semakin berat. Titik api terus bermunculan dan merambat cepat karena area yang kering, sehingga memperbesar risiko meluasnya kebakaran.

Upaya Petugas dan Polisi

Polres Cianjur telah mengerahkan satu pleton personel yang dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR) dan batang rotan (gepyok) untuk mempercepat pemadaman. Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi menyatakan bahwa personel yang diterjunkan memiliki keahlian khusus dalam penanganan kebakaran lahan dan bencana.

Selain polisi, personel TNI, relawan, dan warga sekitar juga berpartisipasi aktif. Mereka berencana melakukan pemadaman dengan cara estafet membawa air menggunakan jerigen, mengingat titik api berada jauh dari sumber air, sekitar 5 kilometer.

Perkiraan Luas Kebakaran

Menurut perkiraan, kebakaran telah melanda area seluas 15 hektare, mulai dari kawasan Alun-alun Suryakencana hingga Kawah Wadon di TNGGP. Jika tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat, api berpotensi terus meluas dan merusak lebih banyak kawasan konservasi penting ini.

Signifikansi Penanganan

Kebakaran di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati dan ekosistem di kawasan cagar alam tersebut, tetapi juga berdampak pada kualitas udara dan potensi bencana lanjutan seperti erosi. Oleh karena itu, upaya pemadaman yang efektif dan cepat menjadi sangat penting untuk meminimalisir kerusakan lebih lanjut.

Penanganan kebakaran ini memerlukan koordinasi yang baik antar instansi dan dukungan peralatan yang memadai agar proses pemadaman dapat berjalan optimal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup