RSA UGM Panggil Perawat yang Diduga Cibir Pasien BPJS di Medsos
PlatMerah.com – Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) memanggil seorang perawat bernama Dika Purnomo Aji yang diduga memberikan komentar tidak empati terhadap pasien BPJS bernama Yurizal di media sosial. Kasus ini menjadi perhatian setelah Yurizal mengunggah keluhan terkait pelayanan kesehatan BPJS di Threads dan belakangan dikabarkan meninggal dunia.
Investigasi oleh Tim Etik dan Hukum RSA UGM
Direktur Utama RSA UGM, Dr. dr. Darwito, S.H., Sp.B(K)Onk., menyatakan bahwa kasus tersebut sudah ditindaklanjuti oleh tim etik rumah sakit. Perawat yang bersangkutan dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai bagian dari proses investigasi. Darwito menjelaskan, keputusan terkait sanksi atau tindakan disiplin akan diserahkan kepada tim etik dan hukum setelah proses klarifikasi selesai.
Profil Perawat dan Klarifikasi Pasien
Dika Purnomo Aji diketahui baru bekerja selama satu tahun di RSA UGM. Sementara itu, pasien BPJS yang menjadi sasaran komentar tersebut bukan pasien RSA UGM, melainkan dirawat di rumah sakit lain. Direktur Utama menegaskan bahwa rumah sakit tetap melakukan konfirmasi untuk memastikan kebenaran tuduhan sebelum menentukan langkah selanjutnya, termasuk penerapan tata disiplin dan kode etik profesi.
Pesan Etika untuk Tenaga Kesehatan di Media Sosial
Darwito mengingatkan seluruh tenaga kesehatan agar selalu mengedepankan etika saat menggunakan media sosial. Menurutnya, sikap yang tidak sensitif dapat menyakiti perasaan orang lain dan menimbulkan persepsi negatif yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, nakes dianjurkan untuk berhati-hati dalam berkomunikasi di platform digital agar tidak menimbulkan konflik atau salah pengertian.
Konsekuensi dan Dampak Kasus
Kasus ini menyoroti pentingnya etika komunikasi tenaga kesehatan, terutama dalam konteks pelayanan publik dan penggunaan media sosial. Tindakan yang tidak profesional dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan dan berdampak pada citra profesi. RSA UGM melalui tim etik dan hukum berkomitmen untuk menangani kasus ini secara transparan dan adil.
Kasus ini juga memicu diskusi mengenai perlunya pelatihan etika dan komunikasi bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi keluhan pasien secara online maupun offline, guna meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












