Kisah Inspiratif Kurir Difabel di Medan Masuk Desil 6-10
PlatMerah.com, Medan – Iqbal Marqori, seorang kurir pengantar makanan penyandang tunadaksa di Medan, menunjukkan semangat luar biasa dalam menjalani kehidupannya meski menghadapi keterbatasan fisik. Ia termasuk dalam kategori Desil 6-10, golongan ekonomi menengah ke atas, namun tidak pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah.
Perjuangan Iqbal Menjalani Pekerjaan
<pIqbal kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan pada 2015. Meski harus dibantu tongkat saat berjalan, pria berusia 32 tahun ini terus berusaha mencari nafkah sebagai kurir online pengantar makanan. Sebelumnya, ia sempat berjualan kerupuk di Padang pada 2020 sebelum memutuskan pindah ke Medan untuk mencari pekerjaan lebih stabil.
Iqbal tinggal di rumah kontrakan milik saudara iparnya dengan biaya sewa Rp 7 juta per tahun. Penghasilannya sebagai kurir rata-rata sekitar Rp 150.000 per hari, namun terkadang hanya cukup untuk biaya bensin motor. Ia juga kerap mendapat bantuan berupa uang tip atau beras dari pelanggan yang peduli.
Tantangan dan Kesulitan yang Dihadapi
Dalam pekerjaannya, Iqbal pernah mengalami insiden kecelakaan kecil yang menyebabkan barang pesanan rusak. Ia menerima tanggung jawab dan mengganti kerugian tersebut secara langsung kepada pelanggan. Karena kondisi fisiknya, Iqbal tidak berani menjadi driver ojek online yang mengantar penumpang demi keselamatan bersama.
Saat mengantarkan barang berukuran besar, Iqbal kerap dibantu oleh pelanggan karena kesulitan mengangkat sendiri. Meski begitu, ia selalu berusaha mandiri sejauh kemampuan fisiknya.
Status Ekonomi dan Bantuan Sosial
Saat iseng memeriksa golongan desil di laman Kementerian Sosial, Iqbal terkejut mengetahui dirinya masuk dalam kategori Desil 6-10, yang berarti golongan menengah ke atas. Hal ini menyebabkan ia tidak pernah mendapat bantuan sosial pemerintah seperti sembako atau uang tunai. Padahal, kondisi ekonomi dan aset yang dimiliki sangat terbatas, termasuk motor yang digunakan merupakan milik adik iparnya.
Iqbal juga menyatakan belum pernah disurvei oleh petugas Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga tidak ada data resmi mengenai kondisi keluarganya yang bisa dijadikan dasar pemberian bantuan sosial.
Harapan untuk Masa Depan
Iqbal berharap pemerintah dapat memberikan bantuan sosial dan modal usaha agar ia bisa membuka usaha jualan sembako. Menjadi kurir pengantar makanan dengan kondisi fisiknya dianggap berbahaya dan rentan kecelakaan. Dengan modal usaha, ia ingin membangun kehidupan yang lebih stabil dan aman.
Meski menghadapi banyak rintangan, Iqbal tetap teguh dan tidak menyerah. Ia percaya dengan kerja keras dan niat yang kuat, kehidupannya akan membaik tanpa harus mengandalkan belas kasihan.
Perjalanan Iqbal menjadi pengingat pentingnya perhatian yang lebih baik bagi penyandang disabilitas dalam program bantuan sosial, serta perlunya data yang akurat untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













