Surplus Produksi Telur Nasional Picu Harga Turun hingga Rp16 Ribu per Kg

Surplus Produksi Telur Nasional Picu Harga Turun hingga Rp16 Ribu per Kg

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Lonjakan Produksi Telur

Plat Merah – Sejak pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada akhir 2024, permintaan telur ayam meningkat drastis. Program ini menargetkan penyediaan protein hewani bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan, sehingga proyeksi kebutuhan telur nasional melonjak lebih dari 30 persen dalam dua tahun pertama. Menyikapi peluang pasar, peternak tradisional sekaligus investor baru memperluas skala operasi mereka, menambah kandang, dan memperkenalkan teknologi intensif.

Ekspansi Usaha Peternakan

Menurut Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Rofi Yasifun, pada program Halo RRI Senin 20 Juli 2026, peternak menambah populasi ayam petelur secara signifikan. “Peternak yang sudah ada menambah populasi, sementara pemain baru juga masuk karena melihat peluang dari Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya. Data internal PPRN menunjukkan bahwa sejak akhir 2025, jumlah kandang petelur di Jawa Timur naik 18 persen, dengan Blitar menjadi pusat produksi utama.

Kenaikan Produksi Menjadi Surplus

Puncak produksi tercapai pada pertengahan 2026. Surplus nasional diperkirakan mencapai 13‑20 persen dibandingkan perkiraan kebutuhan. Ayam yang dipelihara pada akhir 2025 mulai memasuki fase produksi penuh, sehingga volume telur yang masuk ke pasar melampaui kapasitas penyerapan.

BulanHarga Telur (Rp/kg)Produksi Nasional (juta butir)
Jan 202622.0001.200
Mar 202620.5001.350
Jun 202618.0001.600
Jul 202616.0001.720

Kronologi Perkembangan Harga Telur

  1. Des 2024 – Pemerintah mengumumkan kebutuhan tambahan 150 ribu ton telur untuk MBG 2025‑2026.
  2. Feb 2025 – Peternak mulai menambah stok bibit dan memperluas kandang di Jawa Timur, khususnya Blitar.
  3. Nov 2025 – Investor domestik dan asing membuka fasilitas produksi pakan berbasis jagung.
  4. Jan‑Mar 2026 – Produksi meningkat 12‑15 persen, harga turun menjadi Rp20.500 per kg.
  5. Jun 2026 – Surplus produksi mencapai 18 persen, harga turun drastis ke Rp16.000 per kg.
  6. Jul 2026 – Rofi Yasifun mengkritik ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan pasar pada program Halo RRI.

Dampak dan Implikasi

  • Peternak: Penurunan Harga Telur di bawah biaya produksi memaksa banyak peternak kecil menutup usaha atau beralih ke komoditas lain.
  • Konsumen: Harga telur yang lebih murah meningkatkan akses protein bagi rumah tangga, terutama di wilayah perkotaan.
  • Pemerintah: Tekanan untuk menyesuaikan target MBG, mengoptimalkan distribusi, serta merancang kebijakan subsidi pakan.
  • Industri Pakan: Kenaikan harga jagung menambah beban biaya, memicu pencarian alternatif bahan baku seperti dedak padi.
  • Pasar Ekspor: Surplus domestik membuka peluang ekspor ke negara tetangga, namun standar kualitas dan logistik masih menjadi hambatan.

Respons Pemerintah dan Upaya Penstabilan

Menanggapi gejolak pasar, Kementerian Pertanian mengeluarkan perintah darurat pada Agustus 2026 untuk menunda penambahan kapasitas kandang di wilayah dengan produksi berlebih. Selain itu, Kementerian Perdagangan membuka jalur ekspor sementara ke Malaysia dan Brunei, dengan syarat sertifikasi halal dan mutu.

Di tingkat daerah, Dinas Pertanian Blitar berkoordinasi dengan PPRN untuk mengatur jadwal pemeliharaan ayam petelur, menyesuaikan pakan dengan harga jagung, serta memberikan pelatihan manajemen risiko kepada peternak kecil.

Prospek Kedepan

Jika surplus tetap berlanjut, harga telur dapat turun lebih jauh, menimbulkan risiko kerugian jangka panjang bagi industri peternakan. Namun, dengan penyesuaian kebijakan MBG yang lebih terukur, diversifikasi pasar (ekspor, industri olahan), dan inovasi pakan yang lebih murah, keseimbangan dapat dipulihkan dalam 12‑18 bulan ke depan.

Situasi ini sekaligus menjadi pelajaran penting bagi pembuat kebijakan: program sosial berskala besar harus diiringi dengan analisis rantai pasok yang holistik, agar manfaat gizi tidak berbalik menjadi beban bagi produsen.

Di tengah dinamika ini, peternak seperti Rofi Yasifun tetap optimis. “Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk menstabilkan harga dan memastikan peternak mendapat keuntungan yang layak,” ujarnya, menegaskan komitmen bersama demi ketahanan pangan nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup