Rupiah Kembali Melemah, Selasa Ditutup Turun 106 Poin ke Rp17.861 per Dolar AS
PlatMerah.com – Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Selasa, turun 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di Rp17.755. Pelemahan ini terjadi setelah Rupiah sempat menguat satu hari sebelumnya.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar Rupiah. Ketegangan ini memupus harapan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang penting bagi perdagangan minyak dunia. Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer terbaru, sehingga negosiasi pembukaan jalur tersebut menemui hambatan.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa situasi ini menimbulkan ketidakpastian di pasar global yang berdampak pada mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Sentimen Domestik
Dari sisi domestik, penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden RI Prabowo Subianto sedikit meredakan kekhawatiran pasar terkait kepemimpinan moneter. Namun, sentimen positif ini tertahan oleh rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menurun, dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli 2026, yang menambah tekanan pada Rupiah.
Pergerakan Rupiah Sebelumnya
Sebelumnya pada Senin, Rupiah sempat menguat signifikan sebanyak 142 poin atau 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS dari Rp17.897. Namun, penguatan ini hanya berlangsung sehari sebelum kembali melemah akibat faktor global dan domestik yang berpengaruh.
Dampak dan Perkembangan Selanjutnya
Pelemahan Rupiah ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketegangan geopolitik dan data ekonomi domestik yang menunjukkan ketidakpastian. Bank Indonesia dan otoritas terkait perlu memantau perkembangan situasi global serta data ekonomi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar.
Perubahan nilai Rupiah juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kinerja sektor ekonomi yang bergantung pada nilai tukar mata uang asing.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













