Target Setop Impor 2029, Pemerintah Bangun Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di NTT
PlatMerah.com, Jakarta – Pemerintah sedang mengembangkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan target luas hingga 2.000 hektare sebagai upaya mewujudkan swasembada garam nasional dan menghentikan impor garam pada tahun 2029.
Pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyelesaikan pengembangan Tahap I seluas 616 hektare dan saat ini melanjutkan Tahap II seluas 751 hektare. Pengembangan ini dilakukan melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan milik masyarakat, sehingga masyarakat sekitar dapat memperoleh manfaat ekonomi melalui bagi hasil pemanfaatan lahan.
Selain pengembangan oleh KKP seluas 2.000 hektare, sekitar 8.000 hektare kawasan lainnya di Rote Ndao akan dikembangkan oleh investor swasta. Program ini merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) yang mencakup area sekitar 10.764 hektare.
Target Swasembada Garam Nasional dan Pengurangan Impor
Pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara bertahap dari sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026, 3,5 juta ton pada 2027, dan mencapai 5 juta ton pada 2029. Seiring dengan itu, volume impor garam juga ditargetkan turun drastis dari sekitar 2,6 juta ton menjadi nol pada 2029.
Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian nasional dalam produksi garam.
Investasi dan Teknologi dalam Pengembangan Kawasan Garam
Nilai investasi untuk pengembangan K-SIGN di Rote Ndao diperkirakan mencapai Rp2 triliun. Investasi ini mencakup pembangunan tambak garam dan sarana prasarana pendukung seperti jalan, fasilitas penyimpanan dan pengolahan, pompa, serta infrastruktur lainnya.
Pada tahap awal, KKP menggunakan metode tambak garam terbuka dengan geomembran High-Density Polyethylene (HDPE) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam. Selanjutnya, pemerintah merencanakan modernisasi teknologi secara bertahap termasuk pemanfaatan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Dampak Pengembangan Kawasan bagi Masyarakat Lokal
Pengembangan kawasan ini diharapkan memberikan dampak positif berupa pemerataan pembangunan di NTT, peningkatan pendapatan petambak, penyediaan lapangan kerja, serta pengentasan kemiskinan di wilayah Rote Ndao.
Selain itu, keterlibatan masyarakat setempat dalam rantai usaha garam akan diperluas, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh komunitas lokal.
Produksi Perdana dan Proyeksi Masa Depan
KKP saat ini sedang melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare dengan target panen perdana pada November 2026. Keberhasilan pengembangan K-SIGN ini menjadi kunci utama dalam mendukung target pemerintah menghentikan impor garam pada tahun 2029 dan mencapai swasembada garam nasional.
Dengan langkah strategis ini, pemerintah berharap dapat memperkuat sektor kelautan dan perikanan serta meningkatkan kemandirian pangan nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











