Negara-Negara Teluk Desak China Jinakkan Iran, Nasib Selat Hormuz Kini Jadi Taruhan Dunia
PlatMerah.com, Jakarta – Negara-negara Teluk dilaporkan mendesak China untuk menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran guna meredakan ketegangan di Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa konflik yang melibatkan Iran akan mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam kelancaran ekspor minyak serta gas dari negara-negara Teluk.
Kekhawatiran tersebut muncul karena Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb merupakan dua jalur pelayaran utama dunia. Keduanya menjadi rute vital bagi pengiriman minyak mentah, gas alam cair (LNG), dan berbagai komoditas internasional. Gangguan pada jalur ini berpotensi menghambat perdagangan global dan memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.
Desakan Negara Teluk kepada China
Negara-negara Teluk menilai China memiliki posisi unik sebagai pembeli terbesar minyak dari kawasan Teluk sekaligus mitra dagang utama Iran. Hubungan ekonomi yang erat dengan kedua belah pihak dianggap memberi Beijing pengaruh yang cukup kuat untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi serta menekan eskalasi militer yang dapat memperburuk situasi keamanan kawasan.
Dengan demikian, Beijing diharapkan dapat memainkan peran diplomatik yang lebih besar dibandingkan Amerika Serikat (AS) dalam meredakan ketegangan.
Pentingnya Mediator dari Negara Besar
Menanggapi perkembangan tersebut, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide, menilai keterlibatan negara-negara besar menjadi faktor penting untuk membuka peluang penyelesaian konflik.
“Hanya tekanan dari domestik Amerika dan internasional yang bisa menghentikan Trump. Negara-negara besar juga perlu lebih banyak terlibat sebagai mediator, seperti China dan Rusia,” ujar Ahmad Sahide saat dihubungi Tribunnews.
Ancaman Iran terhadap Kapal Penerima Ganti Rugi AS
Sementara itu, Iran menyatakan tidak akan mengizinkan kapal milik negara atau perusahaan mana pun melintas Selat Hormuz jika mereka menerima uang ganti rugi dari aset-aset Teheran yang dibekukan. Hal tersebut disampaikan juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya melalui siaran televisi resmi pemerintah Iran, IRIB, Selasa (28/7/2026).
Pernyataan ini merupakan tanggapan resmi untuk menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa kapal-kapal yang mengalami kerusakan akibat tindakan Iran di kawasan Teluk akan diberikan kompensasi menggunakan dana milik Iran yang saat ini dibekukan. Juru bicara tersebut membantah bahwa pihaknya bertanggung jawab atas kerusakan kapal-kapal di kawasan Teluk, dan menilai kerusakan tersebut murni disebabkan oleh situasi tidak aman yang diciptakan oleh militer AS sendiri, termasuk keputusan AS menggunakan jalur pelayaran di sebelah selatan Selat Hormuz yang dinilai ilegal dan berbahaya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













