Wagub Lampung Percepat Eliminasi TBC di Tubaba lewat Tiga Arahan Strategis
Plat Merah – Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, pada Kamis 16 Juli 2026 mengeluarkan tiga arahan strategis yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) dan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) secara virtual, sebagai respons atas rendahnya capaian penemuan kasus TBC di wilayah tersebut. Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya nasional untuk eliminasi TBC pada tahun 2030.
Latar Belakang: Tantangan Tuberkulosis di Lampung
Menurut data Kementerian Kesehatan, Provinsi Lampung masih mencatat angka prevalensi TBC yang berada di atas rata-rata nasional. Kabupaten Tulang Bawang Barat khususnya menunjukkan penurunan temuan kasus aktif dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam National Tuberculosis Elimination Programme (NTEP). Faktor-faktor yang memperparah situasi meliputi kurangnya pemetaan daerah berisiko, keterbatasan tenaga kesehatan di puskesmas, serta minimnya program pencegahan di tingkat desa.
Ketiga Arahan Strategis
1. Penyusunan Micro Planning hingga Tingkat Puskesmas
Arahan pertama menekankan pentingnya micro planning yang detail hingga ke masing‑masing puskesmas. Rencana ini harus mencakup:
- Pemetaan sasaran secara rinci (kelurahan, dusun, rumah tangga);
- Jadwal aktivitas Active Case Finding (ACF) bulanan;
- Indikator pemantauan capaian dan mekanisme pelaporan.
Berikut adalah contoh jadwal pelaksanaan ACF dari Juli hingga November 2026:
| Bulan | Kegiatan | Penanggung Jawab |
|---|---|---|
| Juli | Pemetaan rumah sakit dan puskesmas; sosialisasi ACF | Dinkes Tubaba |
| Agustus | Pelaksanaan skrining massal di 20 desa prioritas | Tim ACF |
| September | Evaluasi hasil skrining, rujukan kasus positif | Puskesmas setempat |
| Oktober | Penguatan TPT bagi kontak serumah | Petugas Kesehatan Masyarakat |
| November | Laporan akhir, rekomendasi perbaikan | Koordinator TP2TB |
2. Pembentukan Desa Siaga TBC
Desa Siaga TBC merupakan model desa yang mengintegrasikan pencegahan, deteksi dini, dan edukasi tentang TBC. Hingga saat ini, Kabupaten Tubaba belum memiliki Surat Keputusan (SK) resmi untuk membentuk desa-desa tersebut, sementara 252 desa di kabupaten/kota lain di Provinsi Lampung telah berstatus Siaga TBC.
Berikut perbandingan singkat antara Kabupaten Tubaba dan kabupaten/kota lain di Lampung:
| Kabupaten/Kota | Desa Siaga TBC |
|---|---|
| Tulang Bawang Barat | 0 |
| Lampung Selatan | 45 |
| Bandar Lampung | 68 |
| Pesisir Barat | 39 |
| Mesuji | 20 |
Wakil Gubernur menekankan bahwa pembuatan SK Desa Siaga TBC harus selesai paling lambat Desember 2026, dengan pendampingan teknis dari Dinkes Provinsi.
3. Peningkatan Cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
Kontak serumah penderita TBC menjadi kelompok prioritas untuk TPT. Saat ini, cakupan TPT di Tubaba masih di bawah 30 % padahal standar WHO menargetkan minimal 70 %.
- Identifikasi dan registrasi kontak rumah secara door‑to‑door;
- Penyediaan obat isoniazid atau regimen singkat 3HP secara gratis;
- Pemantauan kepatuhan melalui kunjungan tenaga kesehatan.
Kronologi Singkat Peristiwa
- 16 Juli 2026 – Wagub Jihan Nurlela menyampaikan tiga arahan dalam rapat virtual TP2TB.
- 18 Juli 2026 – Dinas Kesehatan Provinsi mengirimkan pedoman micro planning ke Kabupaten Tubaba.
- 1 Agustus 2026 – Tim teknis mulai pemetaan wilayah prioritas di 20 desa.
- 15 September 2026 – Pemerintah Kabupaten mengajukan draft SK Desa Siaga TBC.
- 30 November 2026 – Laporan evaluasi pertama micro planning diserahkan ke Provinsi.
Dampak dan Implikasi
Implementasi tiga arahan di atas diproyeksikan menghasilkan dampak luas, antara lain:
- Kesehatan masyarakat: Peningkatan deteksi kasus aktif dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas TBC hingga 25 % dalam dua tahun.
- Ekonomi keluarga: Dengan pencegahan dini melalui TPT, beban biaya pengobatan dan kehilangan produktivitas dapat berkurang signifikan.
- Sektor pendidikan: Anak-anak yang terhindar dari infeksi TBC akan lebih konsisten bersekolah, meningkatkan tingkat partisipasi pendidikan.
- Pemerintahan daerah: Keberhasilan program dapat meningkatkan kredibilitas pemerintah Kabupaten dalam mengelola program kesehatan nasional.
- Industri farmasi lokal: Permintaan obat anti‑tuberkulosis dan suplemen TPT akan meningkat, membuka peluang pasar bagi produsen dalam negeri.
Harapan Kedepan
Jihan Nurlela menutup rapat dengan menekankan bahwa percepatan penemuan kasus dan penguatan pencegahan bukan hanya sekadar target statistik, melainkan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan Lampung. “Penanganan TBC yang tepat waktu akan menurunkan beban ekonomi keluarga, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya memperkuat daya saing daerah,” ujarnya.
Jika seluruh pemangku kepentingan – mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga masyarakat desa – dapat bersinergi, Kabupaten Tulang Bawang Barat berpotensi menjadi contoh model percepatan eliminasi TBC yang dapat direplikasi di provinsi lain. Upaya ini diharapkan tidak hanya menutup kesenjangan kesehatan, tetapi juga menyiapkan fondasi yang kuat untuk pencapaian target nasional pada tahun 2030.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













