Karhutla dan Kemarau Panjang Bikin Kasus ISPA Alami Lonjakan
PlatMerah.com – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Indonesia mengalami lonjakan signifikan yang dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau yang panjang. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada awal musim kemarau tahun 2026, kasus ISPA meningkat hingga lebih dari 400 ribu kasus per minggu, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Faktor Penyebab Lonjakan Kasus ISPA
Kebakaran hutan di wilayah Kalimantan semakin meluas dengan ribuan titik api yang membuat kabut asap semakin pekat. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara memburuk dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, khususnya meningkatnya kasus ISPA. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa musim kemarau yang memasuki puncaknya pada Juli-Agustus 2026 menjadi faktor utama peningkatan kasus tersebut.
Selain itu, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sejak bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus-September. Kondisi ini diperparah oleh kemarau yang berkepanjangan sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan di masyarakat.
Data dan Tren Kasus ISPA
Tren kasus ISPA pada tahun 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan tahun 2025. Pada minggu ke-30 tahun 2026, tercatat sekitar 400 ribu kasus, meskipun ada sedikit penurunan pada minggu berikutnya. Sementara itu, pada tahun 2025 kasus ISPA meningkat secara konsisten dari 300-350 ribu kasus pada minggu ke-32 hingga hampir 400 ribu kasus pada minggu ke-44.
Upaya Penanganan dan Bantuan Kesehatan
Untuk merespons lonjakan kasus ISPA akibat karhutla, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengerahkan 90 tenaga kesehatan ke wilayah terdampak. Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, dan epidemiolog. Penempatan tenaga kesehatan dilakukan di berbagai provinsi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Riau, dan Jambi.
Bantuan logistik kesehatan yang dikirimkan meliputi:
- 267.630 masker
- 54 unit oksigen konsentrator (OC)
- 1.000 pasang sarung tangan medis
- 36 tabung Oxycan
- 33 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
- 40 faceshield
- 8 Alat Pelindung Diri (APD)
Pentingnya Pola Hidup Sehat dan Vaksinasi
Musim kemarau yang panjang dan peningkatan kabut asap dari karhutla menuntut masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat guna menjaga daya tahan tubuh. Terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia disarankan untuk mendapatkan cakupan vaksin influenza dan COVID-19 yang memadai untuk mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan.
Peningkatan kasus ISPA juga dapat terjadi pada musim hujan saat suhu rendah dan kelembapan tinggi, sehingga kewaspadaan harus terus dijaga sepanjang tahun.
Konteks Musim Kemarau dan Karhutla di Indonesia
Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Periode ini juga menjadi masa rawan kebakaran hutan yang dapat memperparah kondisi kualitas udara. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla sangat penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













