Tirani Algoritma di Serambi Pesantren

Tirani Algoritma di Serambi Pesantren

PlatMerah.com – Tirani algoritma kini merambah serambi pesantren, mengubah tradisi sakral menjadi komoditas digital yang memengaruhi esensi pendidikan dan spiritualitas Islam tradisional.

Transformasi Pesantren di Era Digital

<pPada masa lalu, pesantren dikenal sebagai tempat yang menawarkan ruang sunyi dan ketenangan bagi santri untuk mendalami ilmu dan spiritualitas. Namun, digitalisasi membawa perubahan besar. Nilai-nilai luhur pesantren yang dulu dijaga melalui ritual dan pengajaran mendalam kini terdampak oleh tuntutan pasar digital dan algoritma media sosial.

Kiai Selebritas dan Komodifikasi Nilai Pesantren

Fenomena kiai selebritas muncul sebagai akibat dari komodifikasi nilai pesantren dalam ruang digital. Sosok kiai yang dahulu hanya menjadi panutan spiritual kini harus tampil fotogenik dan menarik secara digital demi memenuhi algoritma dan tren penonton. Hal ini berdampak pada penyederhanaan dakwah yang semestinya kontemplatif menjadi konten singkat yang kehilangan makna mendalam.

Psikopolitik dan Eksploitasi Diri

Menurut pemikiran Byung-Chul Han, kekuasaan modern bertransformasi menjadi psikopolitik yang menggoda melalui pesona digital. Santri yang mengelola media pesantren seringkali bekerja melewati batas, mengorbankan kreativitas dan jiwa demi memenuhi tuntutan algoritma. Proses ini adalah eksploitasi diri secara sukarela yang mengubah keikhlasan menjadi industri tontonan.

Dampak Desakralisasi dan Narsisme Spiritual

Ruang digital menyebabkan desakralisasi pesantren. Ritual mengaji kitab kuning yang memerlukan ketekunan bertahun-tahun diringkas menjadi video pendek yang kehilangan esensi. Selain itu, puja puji di media sosial menciptakan narsisme spiritual yang memecah komunitas menjadi individu fragmentaris yang mudah berubah sikap sesuai selera pasar.

Menjaga Marwah Pesantren di Era Digital

Pesantren tidak bisa menutup diri terhadap teknologi, tetapi harus berani membatasi diri dari tirani popularitas semu. Menjaga khidmat sebagai laku sunyi antara hamba, guru, dan Tuhan harus diutamakan agar pesantren tetap menjadi benteng spiritual yang kuat. Penggunaan teknologi harus disertai kesadaran agar nilai agama tidak terdesentralisasi tanpa kendali dan tidak habis dikunyah oleh mesin kapitalisme global.

Refleksi Akhir

Kehadiran teknologi digital harus menjadi alat yang memperkuat, bukan melemahkan nilai-nilai pesantren. Kesalehan sejati membutuhkan ruang sunyi yang tidak bisa dipersingkat oleh algoritma. Tirani algoritma di serambi pesantren adalah tantangan besar yang memerlukan kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya dan spiritual Islam di Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup