Tiga Orangutan Kembali ke Rumahnya, BKSDA Kalbar Evakuasi dari Perkebunan Warga di Ketapang

Tiga Orangutan Kembali ke Rumahnya, BKSDA Kalbar Evakuasi dari Perkebunan Warga di Ketapang

PlatMerah.com, Ketapang – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil mengevakuasi tiga individu orangutan yang ditemukan di sekitar perkebunan dan permukiman warga di Kabupaten Ketapang.

Evakuasi ini dilakukan sebagai respons cepat atas laporan masyarakat yang menemukan orangutan di wilayah tersebut. Ketiga orangutan bernama Mamak Yuni, Pura, dan Yuni diketahui bergerak mendekati area perkebunan dan permukiman akibat perubahan kondisi alam belakangan ini.

Proses Evakuasi dan Pelepasliaran

Setelah dievakuasi, ketiga orangutan menjalani pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi kesehatannya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketiganya dalam keadaan sehat. Selanjutnya, mereka ditranslokasikan dan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya di Sektor Batu Barat.

Peran Masyarakat dan Imbauan BKSDA

BKSDA Kalbar menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melaporkan kemunculan satwa liar di sekitar pemukiman. Laporan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan warga sekaligus melindungi satwa liar dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mengganggu apabila menemukan satwa liar, serta segera melaporkan ke BKSDA setempat untuk ditindaklanjuti secara profesional.

Konservasi Orangutan di Kalimantan Barat

Orangutan merupakan salah satu spesies kunci yang keberadaannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Kalimantan. Upaya evakuasi dan pelepasliaran orangutan yang dilakukan oleh BKSDA Kalbar, Balai Taman Nasional Gunung Palung, dan YIARI merupakan bagian dari program konservasi yang berkelanjutan.

Langkah ini juga mencerminkan sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam melindungi satwa langka sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar di daerah yang berbatasan langsung dengan habitat orangutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup