Wagub Giri Prasta Apresiasi Semangat Krama Jaga Tradisi Leluhur
Latar Belakang Upacara Tawur Labuh Gentuh
Plat Merah – Upacara Tawur Labuh Gentuh di Desa Sibanggede, Kabupaten Badung, Bali, menjadi contoh nyata kegigihan masyarakat adat dalam melestarikan warisan leluhur. Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Piodalan Padudusan Agung Menawa Ratna, yang dilaksanakan setiap 30 tahun. Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menghadiri acara tersebut pada 3 Juni 2026, menyampaikan apresiasi terhadap semangat krama yang terus memupuk nilai swadharma dan kebersamaan.
Signifikansi Catus Pata: Titik Strategis dalam Tatanan Sosial
Catus Pata Desa Sibanggede, lokasi pelaksanaan upacara, menggambarkan kearifan leluhur dalam memahami tata ruang desa. Wilayah ini dikelilingi perempatan jalan di empat penjuru dan menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan spiritual. Menurut Wagub Giri Prasta, keberadaan puri, pura, pasar, dan kawasan masyarakat di kawasan ini menunjukkan peran vitalnya dalam menjaga keseimbangan sekala-niskala (dunia nyata dan dunia batin).
Dukungan Pemerintah dan Partisipasi Masyarakat
| Sumber Pendanaan | Jumlah | Penjelasan |
|---|---|---|
| Hibah Pemkab Badung | Rp1,5 miliar | Dukungan langsung dari pemerintah daerah. |
| Punia Krama | Rp25 juta | Donasi dari warga desa adat. |
| Kontribusi Pengusaha | Tidak disebutkan | Partisipasi swasta dalam penyelenggaraan. |
Kronologi Kegiatan dan Dampak Jangka Panjang
- 3 Juni 2026: Upacara Tawur Labuh Gentuh.
- 7 Juli 2026: Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna.
- 9 Juli 2026: Upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini.
Pelaksanaan karya ini tidak hanya menjadi simbol kekayaan budaya, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat adat. Gotong royong dalam penyediaan sarana upakara, keterlibatan serati (pendeta), tukang ulam (ahli bumbu), dan krama dari 12 banjar menunjukkan solidaritas masyarakat. Wagub Giri Prasta menyarankan penciptaan prasasti untuk mengarsipkan sejarah karya setiap tiga dekade, memastikan kesinambungan tradisi bagi generasi mendatang.
Implikasi untuk Pelestarian Budaya Nasional
Upacara ini memiliki dampak ganda: menjaga warisan budaya dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian. Dalam konteks pariwisata, acara semacam ini bisa menjadi daya tarik unik yang menarik wisatawan budaya, sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan dana dan perluasan kesadaran generasi muda. Pemerintah daerah harus terus berinovasi dalam pendanaan, sambil memanfaatkan teknologi untuk dokumentasi dan promosi.
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Berdasarkan wawancara dengan Ketua Panitia Karya, I Ketut Darma, pelaksanaan karya ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin. Beberapa langkah strategis yang bisa diambil:
- Meningkatkan pendidikan budaya di sekolah-sekolah setempat.
- Membangun museum atau pusat dokumentasi tradisi desa.
- Memadukan seni kontemporer dengan upacara adat untuk menarik minat generasi muda.
Upacara Tawur Labuh Gentuh di Sibanggede bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga manifesto hidup tentang kekuatan komunitas dalam menjaga identitas budaya. Dengan dukungan pemerintah, partisipasi aktif masyarakat, dan strategi inovatif, tradisi leluhur bisa tetap hidup di era modern tanpa kehilangan makna spiritual dan sosialnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













