TNI Dampingi Fogging Cegah DBD di Citrodiwangsan Lumajang: Sinergi Militer dan Warga Ciptakan Lingkungan Sehat

TNI Dampingi Fogging Cegah DBD di Citrodiwangsan Lumajang: Sinergi Militer dan Warga Ciptakan Lingkungan Sehat

Latar Belakang Peningkatan Kasus DBD di Wilayah Citrodiwangsan

Plat Merah – Wilayah Citrodiwangsan, Kecamatan Lumajang, Jawa Timur, akhir-akhir ini mengalami peningkatan risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat curah hujan tinggi dan perubahan pola cuaca. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang menunjukkan bahwa sepanjang 2025 tercatat 125 kasus DBD di wilayah tersebut, dengan puncak kejadian pada periode Februari-Maret 2025. Faktor utama yang memperberat situasi ini termasuk penumpukan air hujan di permukiman padat, rendahnya kesadaran masyarakat melakukan pencegahan, dan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti.

Kronologi Kegiatan Fogging dan Partisipan

TanggalKegiatanPartisipan
7 Juli 2026Pelaksanaan fogging massal
  • Koramil 0821-01 Lumajang (Babinsa Sertu Hari Suyono)
  • Pemerintah Kelurahan Citrodiwangsan
  • RW 008
  • Tenaga kesehatan Puskesmas Lumajang
  • Warga RW 008
  • Tim penyemprotan dari Dinas Kesehatan
6 Juli 2026Sosialisasi 3M PlusStakeholder yang sama dengan fogging

Analisis Efektivitas Fogging versus Pendekatan Komprehensif

Fogging, meski efektif dalam jangka pendek, memiliki keterbatasan karena hanya menargetkan nyamuk dewasa. Sertu Hari Suyono, Babinsa yang mendampingi kegiatan, menjelaskan bahwa efek fogging optimal jika diikuti dengan penerapan gerakan 3M Plus secara konsisten. “Fogging seperti pembersihan sementara, sementara 3M Plus adalah kunci pencegahan jangka panjang,” ujarnya.

Strategi 3M Plus yang Diprioritaskan

  • Menguras: Pembersihan tempat penampungan air seperti ember, bak mandi, dan gentong.
  • Menutup: Menutup rapat wadah yang berisiko menampung air hujan.
  • Mendaur Ulang: Mencari dan memilah barang bekas seperti kaleng, botol, dan plastik yang bisa menjadi sarang nyamuk.

Dampak Sosial dan Dukungan Masyarakat

Ketua RW 008, M. Yamin, menilai kehadiran TNI memperkuat komitmen warga untuk menjaga lingkungan. “Partisipasi Babinsa membuat kita lebih disiplin. Anak-anak dan orang tua mulai sadar akan pentingnya pencegahan,” kata Yamin. Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang mencatat bahwa wilayah yang menerapkan sinergi militer-masyarakat mengalami penurunan 40% kasus DBD dibandingkan 2024.

Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan

Pencegahan DBD di wilayah pedesaan menghadapi tantangan berikut:

  • Keterbatasan anggaran untuk fogging berkala
  • Rendahnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan lingkungan
  • Kurangnya fasilitas pengolahan sampah di tingkat RW

Rekomendasi yang disampaikan oleh Lurah Citrodiwangsan, Wisnu Nur Rochman, mencakup:

  1. Memperluas pelatihan 3M Plus di sekolah-sekolah
  2. Pemberian insentif bagi RW dengan kepatuhan tinggi
  3. Kolaborasi dengan startup teknologi untuk aplikasi pelaporan sarang nyamuk

Peran TNI di Luar Fogging

Keterlibatan TNI tidak hanya terbatas pada pelaksanaan fogging. Babinsa juga memberikan edukasi tentang vaksinasi demam berdarah, distribusi kelambu anti-nyamuk, dan pelatihan pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat. “Kami berpikir secara holistik, kesehatan dan kesejahteraan harus diperjuangkan bersama,” tutur Sertu Hari Suyono.

Implikasi Jangka Panjang

Inisiatif ini memiliki potensi mengurangi beban biaya kesehatan daerah hingga 25% dalam tiga tahun ke depan, mengingat DBD mengakibatkan rata-rata 300 kunjungan ke fasilitas kesehatan per bulan. Selain itu, keberhasilan program ini bisa menjadi model penerapan kesehatan masyarakat di wilayah rawan penularan endemik.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, dr. Siti Fatimah, mengapresiasi inisiatif ini. “Keterlibatan aktif TNI menunjukkan bahwa isu kesehatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya ranah pemerintah,” katanya. Ia menambahkan bahwa program serupa akan segera diterapkan di 15 kelurahan lain di Lumajang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup