Semangat Kebersamaan dalam Dominasi Pembongkaran Rumah Mbah Parmi pada TMMD ke-129

Semangat Kebersamaan dalam Dominasi Pembongkaran Rumah Mbah Parmi pada TMMD ke-129

Latar Belakang Program TMMD ke-129 di Ponorogo

Plat Merah – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) merupakan inisiatif gabungan antara TNI dan pemerintah daerah yang bertujuan mempercepat pembangunan infrastruktur dasar, khususnya di wilayah‑wilayah yang belum terjangkau layanan publik memadai. Pada tahun 2026, Kodim 0802 Ponorogo melaksanakan TMMD ke-129 dengan fokus pada rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon.

Desa Bulu Lor, yang terletak di dataran tinggi Ponorogo, selama ini menghadapi tantangan geografis yang menyulitkan akses jalan, air bersih, dan listrik. Data BPS 2025 mencatat bahwa lebih dari 12% rumah di desa tersebut tergolong tidak layak huni, dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian pertanian subsisten.

Kasus Rumah Mbah Parmi: Dari Kondisi Kritis ke Harapan Baru

Di antara rumah‑rumah yang menjadi prioritas, rumah milik Mbah Parmi di Dukuh Gupit menonjol karena kondisi strukturalnya yang hampir runtuh. Mbah Parmi, seorang pensiunan guru berusia 78 tahun, bersama tiga anaknya, hidup dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Dinding rumah berongga, atap bocor, serta lantai yang tidak rata membuat aktivitas sehari‑hari menjadi beban.

Tokoh masyarakat setempat, Miskun (55), menjelaskan, “Masyarakat di sini sudah lama menantikan bantuan rehab RTLH untuk Mbah Parmi. Selain rumahnya sudah tidak layak huni, kondisi ekonomi keluarganya juga tergolong kurang mampu sehingga sangat membutuhkan bantuan ini.”

Proses Pembongkaran: Gotong Royong yang Menginspirasi

Pada Selasa, 21 Juli 2026, Satgas TMMD yang terdiri atas belasan personel dari Yonif TP 934 SBY dipimpin oleh Kapten Ckm Suroto memulai fase awal: pembongkaran rumah lama. Kegiatan dilakukan secara gotong royong bersama puluhan warga Dukuh Gupit. Semua peserta, baik TNI maupun warga, memakai alat sederhana seperti cangkul, palu, dan gerinda.

Berikut tahapan utama pembongkaran yang berlangsung selama tiga jam:

  • Pengamanan area kerja dan penandaan material yang dapat dipertahankan.
  • Pembongkaran dinding bata satu per satu dengan teknik yang menghindari kerusakan pada struktur sekitarnya.
  • Pembersihan puing‑puing dan pemindahan ke lokasi sementara untuk daur ulang.

Kekompakan tercermin dari ritme kerja yang seragam, serta sorak‑sorai yang mengiringi tiap langkah. “Hari ini dimulai pembangunan rumah Mbah Parmi melalui program TMMD. Karena pembongkaran rumah membutuhkan banyak tenaga, kami bersama warga dan bapak‑bapak TNI bekerja bersama agar prosesnya berjalan lancar,” ujar Miskun.

Jadwal Rehabilitasi dan Data Kuantitatif

TahapTanggal MulaiEstimasi DurasiKeterangan
Pembongkaran21 Jul 20263 jamGotong royong TNI & warga
Pondasi & Struktur22 Jul 20262 hariPenggalian, pengecoran beton
Dinding & Atap24 Jul 20264 hariPemasangan bata ringan, genteng metal
Finishing & Listrik29 Jul 20263 hariPlester, cat, instalasi listrik

Secara keseluruhan, program TMMD ke-129 menargetkan rehabilitasi 25 rumah RTLH di Desa Bulu Lor dengan anggaran total Rp 4,2 miliar.

Dampak Sosial dan Ekonomi Bagi Komunitas

Rehabilitasi rumah tidak hanya menyelesaikan masalah tempat tinggal, tetapi juga menciptakan efek domino pada sektor lain. Dengan rumah yang lebih layak, keluarga Mbah Parmi dapat mengurangi beban biaya kesehatan akibat cedera atau penyakit pernapasan yang disebabkan oleh lingkungan tidak higienis. Selain itu, proses pembangunan membuka lapangan kerja sementara bagi warga setempat, terutama dalam bidang transportasi material dan pengawasan mutu.

Secara ekonomi, peningkatan kualitas hunian berpotensi meningkatkan nilai properti desa. Menurut survei cepat yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Ponorogo, nilai rata‑rata rumah di desa yang pernah mendapat intervensi TMMD naik 12% dalam satu tahun setelah selesai.

Implikasi Kebijakan dan Rencana Ke Depan

Keterlibatan aktif TNI dalam program sipil seperti TMMD menunjukkan paradigma baru dalam peran militer yang lebih bersifat kemanusiaan. Pemerintah Kabupaten Ponorogo berencana memperluas skala program ke desa‑desa tetangga, dengan target 100 rumah RTLH pada akhir 2026.

Pengalaman di Dukuh Gupit menjadi studi kasus bagi unit lain: koordinasi yang jelas antara pimpinan satgas, kepala desa, dan tokoh masyarakat mempercepat alur kerja serta mengurangi potensi konflik kepentingan. Rekomendasi utama yang diajukan meliputi:

  1. Peningkatan pelatihan teknis bagi personel TNI yang terlibat dalam pembangunan sipil.
  2. Pembentukan forum komunikasi rutin antara TNI dan perwakilan warga.
  3. Pengadaan material lokal untuk menekan biaya dan meningkatkan partisipasi ekonomi setempat.

Suara Masyarakat: Harapan yang Tertuang dalam Aksi

Setelah proses pembongkaran selesai, warga mengadakan sesi foto bersama sebagai dokumentasi. “Ini bukan sekadar membongkar rumah, melainkan menandai awal baru bagi keluarga Mbah Parmi dan seluruh desa,” ujar salah satu relawan, Siti (32). Kemeriahan tersebut menegaskan nilai gotong royong yang masih kuat dalam budaya Jawa timur.

Dengan semangat yang sama, warga menantikan penyelesaian tahap selanjutnya. Mereka berharap rumah baru akan selesai tepat waktu, sehingga Mbah Parmi dapat kembali beristirahat dengan nyaman di lingkungan yang aman.

Semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga Dukuh Gupit bersama personel Satgas TMMD ke-129 menjadi modal penting dalam menyukseskan program tersebut. Dukungan penuh dari masyarakat Desa Bulu Lor diharapkan mampu mempercepat penyelesaian seluruh sasaran rehabilitasi RTLH sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh warga penerima bantuan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup