Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?
PlatMerah.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah meluas dengan total area terbakar mencapai 107 ribu hektare hingga Agustus 2026. Fenomena El Niño yang intens dan aktivitas manusia menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini, terutama di wilayah Kalimantan Barat yang mencatat luas kebakaran terbesar.
Bencana karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan dan Sumatera, tetapi juga di beberapa kawasan lain seperti Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah menetapkan enam provinsi prioritas rawan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Penyebab Meluasnya Karhutla
Kondisi kekeringan ekstrem akibat El Niño mempercepat penyebaran api. Menko Polkam Djamari Chaniago menjelaskan bahwa fenomena ini memperparah proses perambatan kebakaran yang sudah terjadi. Selain faktor alam, sekitar 90% kebakaran disebabkan oleh ulah manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar dan aktivitas di kawasan konsesi serta lahan gambut yang mudah terbakar saat kering.
Situasi di Berbagai Wilayah
- Kalimantan Barat: Area terbakar terbesar dengan luas sekitar 28.680 hektare.
- Riau: Luas karhutla mencapai 15.608 hektare, dengan Bengkalis terdampak paling parah.
- Papua Selatan: Area terbakar meluas hingga 41.790 hektare, dengan musim kering yang berbeda dan kalender pencegahan yang perlu disesuaikan.
- Taman Nasional Bromo Tengger Semeru: Luas kebakaran hampir 900 hektare, dengan pemadaman yang masih berlangsung.
Kesulitan Pemadaman Karhutla
Upaya pemadaman menghadapi tantangan berat, seperti medan sulit, angin kencang, dan kabut asap tebal yang mengganggu operasi udara seperti water bombing. Petugas gabungan dari kementerian, TNI/Polri, dan pemerintah daerah terus melakukan patroli, pemadaman titik api, dan sosialisasi larangan membakar lahan.
Dampak Karhutla
Karhutla menyebabkan kabut asap berbahaya yang mengganggu kesehatan masyarakat dan menutup aktivitas publik, seperti penutupan kawasan wisata Gunung Bromo. Selain itu, kebakaran juga mengancam ekosistem dan proyek strategis nasional, terutama di Papua Selatan yang sedang mengembangkan megaproyek pangan dan energi.
Upaya dan Penanganan
Pemerintah daerah dan nasional telah menetapkan status siaga darurat di wilayah rawan karhutla. Di Riau, misalnya, lebih dari 17 ribu personel disiagakan dan koordinasi dengan dunia usaha terus dilakukan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran melalui jalur darat dan udara. Di Papua Selatan, penyesuaian kalender pencegahan karhutla menjadi penting mengingat pola musim yang berbeda.
Penanganan karhutla memerlukan kerjasama lintas sektor dan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi alam serta aktivitas manusia yang menjadi penyebab utama kebakaran. Kesadaran dan perubahan pola pembukaan lahan tanpa bakar menjadi langkah krusial untuk mengurangi risiko kebakaran di masa depan.
Dengan kondisi kekeringan yang masih berlangsung dan fenomena El Niño yang belum berakhir, kesiagaan dan upaya penanggulangan karhutla harus terus diperkuat agar dampak bencana ini dapat diminimalkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













