Kapan El Nino 2026 Berakhir? Simak Cara Mitigasi Kekeringan dan Daerah Terdampak

Kapan El Nino 2026 Berakhir? Simak Cara Mitigasi Kekeringan dan Daerah Terdampak

PlatMerah.com – Fenomena El Nino tahun 2026 diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, dengan potensi kekeringan panjang yang berdampak luas di Indonesia hingga awal tahun 2027. BMKG memprediksi El Nino akan berlangsung hingga awal 2027 dengan peluang intensitas sangat kuat mencapai 75 persen, menyebabkan berkurangnya curah hujan di hampir setengah wilayah Indonesia.

Periode dan Daerah Terdampak El Nino 2026

Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau pada tahun ini diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Namun, puncak kemarau tidak serentak di seluruh wilayah, melainkan bervariasi antar daerah.

Selama Agustus 2026, kemarau telah melanda sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia yang meliputi:

  • Sumatra bagian tengah
  • Sebagian besar Jawa
  • Bali dan Nusa Tenggara Barat
  • Sebagian Nusa Tenggara Timur
  • Sebagian besar Kalimantan
  • Sebagian Sulawesi
  • Sebagian Maluku dan Maluku Utara
  • Sebagian besar Pulau Papua

Intensitas El Nino dan Dampaknya

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), peluang terjadinya El Nino sangat kuat mencapai 69 persen pada periode Oktober hingga Desember 2026, bahkan diperkirakan akan melampaui rekor intensitas tertinggi sejak tahun 1950. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Timur mencapai lebih dari 2 derajat Celsius, menandakan El Nino yang sangat kuat.

Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kekeringan parah di Indonesia, tetapi juga potensi bencana seperti kebakaran hutan, gagal panen, dan inflasi pangan akibat menurunnya produksi pertanian, terutama beras.

Risiko Krisis Air dan Produksi Pangan

BMKG melaporkan bahwa El Nino 2026 memperparah puncak musim kemarau, mengancam ketersediaan air bersih dan menurunkan hasil pertanian. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa hingga Juli 2026, lebih dari 200 ribu hektare lahan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Selain itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi beras Indonesia akan turun sebesar 0,6 persen di tahun ini, yang berpotensi menimbulkan kenaikan inflasi pangan hingga 1,87 poin persentase karena meningkatnya biaya impor pangan.

Upaya Mitigasi Menghadapi El Nino

Untuk mengurangi dampak kekeringan dan kebakaran hutan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar sampah atau vegetasi secara sembarangan. Pelaporan dini hotspot juga sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas.

Selain itu, BMKG telah memulai operasi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan potensi awan untuk menghasilkan hujan yang efektif sebagai langkah mitigasi dampak kekeringan.

Konteks Global dan Prediksi Suhu Ekstrem

Fenomena El Nino yang sangat kuat ini juga terkait dengan pemanasan global dan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang secara bersamaan meningkatkan risiko suhu ekstrem di berbagai wilayah dunia. Para ahli memprediksi, dalam beberapa bulan ke depan, dunia berpotensi mencatat rekor suhu terpanas, yang memperparah dampak iklim ekstrem secara global dan regional.

Data suhu permukaan laut menunjukkan peningkatan anomali yang signifikan sejak awal 2026 dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Desember 2026 dengan anomali yang hampir mencapai 4 derajat Celsius.

Fenomena ini menuntut kesiapsiagaan dan mitigasi yang lebih baik, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna mengurangi risiko bencana iklim yang mengancam kehidupan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup