Kontroversi di Balik Imbangnya Iran vs Selandia Baru: Ramin Rezaeian Bintang Lapangan, Tapi Tim Diperintahkan Hengkang dari AS

Kontroversi di Balik Imbangnya Iran vs Selandia Baru: Ramin Rezaeian Bintang Lapangan, Tapi Tim Diperintahkan Hengkang dari AS

Plat Merah – Pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 Grup G antara Iran dan Selandia Baru di Los Angeles Stadium menyisakan drama tak hanya di atas lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Laga yang berakhir imbang 2-2 itu diwarnai aksi gemilang Ramin Rezaeian, pemain sayap Iran yang menjadi motor serangan timnya. Namun, euforia hasil positif harus ternodai setelah pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengungkapkan bahwa timnya diperintahkan untuk segera meninggalkan Amerika Serikat hanya beberapa jam setelah pertandingan usai.

Dalam laga yang disaksikan 70.108 penonton itu, Selandia Baru unggul lebih dulu melalui gol Elijah Just pada menit ke-7 memanfaatkan assist Chris Wood. Iran sempat menyamakan kedudukan melalui gol Ramin Rezaeian pada menit ke-32, sebelum Just kembali membawa Kiwi unggul di menit ke-54. Namun, Ramin Rezaeian kembali menjadi pahlawan dengan assist cemerlangnya kepada Mohammad Mohebi yang mencetak gol penyeimbang pada menit ke-64. Penampilan impresif Ramin Rezaeian ini menjadi sorotan utama, namun isu politik dan logistik justru mendominasi pemberitaan.

Pelatih Ghalenoei dengan nada kecewa mengatakan kepada awak media bahwa timnya diperintahkan untuk segera terbang kembali ke kamp latihan mereka di Tijuana, Meksiko, tanpa diberikan waktu pemulihan yang layak. “Setelah pertandingan hari ini, mereka berkata kepada kami, ‘Kalian harus segera pergi.’ Sangat penting bagi kami untuk memiliki waktu pemulihan, tapi kami diminta naik pesawat dan kembali ke kamp di Tijuana. Kami sangat terganggu oleh hal itu,” ujar Ghalenoei melalui penerjemah.

Kapten Iran, Mehdi Taremi, juga menyuarakan kekesalannya. Ia menyebut perlakuan ini sebagai “bencana” dan meminta FIFA untuk lebih membantu timnya. “Kami harus meninggalkan Los Angeles sekarang juga, dan itu tidak baik bagi kami. Saya pikir FIFA harus membantu kami lebih dari ini. Semuanya seperti bencana, sebenarnya, bagi kami,” keluh Taremi. Tim Iran juga dilaporkan mengalami kesulitan visa bagi sejumlah staf penting, termasuk presiden federasi sepak bola Iran, yang membuat persiapan tim semakin berat.

Kontroversi ini menambah daftar panjang ketegangan politik yang membayangi partisipasi Iran di Piala Dunia 2026. Sejak konflik antara AS dan Israel dengan Iran pada Februari lalu, tim Iran telah menghadapi berbagai hambatan, termasuk permintaan FIFA untuk memindahkan pertandingan ke luar AS yang ditolak. Suasana di stadion pun memanas, dengan sebagian penonton membunyikan cemoohan saat lagu kebangsaan Iran berkumandang, sementara demonstran anti-rezim membawa bendera Iran pra-revolusi di luar stadion. Meski demikian, Ramin Rezaeian dan rekan-rekannya tetap tampil profesional dan berhasil mencuri satu poin penting.

Kesimpulannya, meskipun pertandingan berakhir dengan hasil imbang yang cukup memuaskan bagi Iran, perlakuan yang mereka terima dari pihak berwenang AS menuai kritik tajam. Insiden ini menyoroti bagaimana politik dapat merembes ke dalam arena olahraga, merusak semangat sportivitas. Bagi Iran, perjuangan mereka di Piala Dunia ini tidak hanya terjadi di lapangan hijau, tetapi juga di luar lapangan, melawan birokrasi dan tekanan politik. Sorotan kini tertuju pada FIFA untuk mengambil sikap tegas terhadap perlakuan yang dialami tim asuhan Ghalenoei, sementara Ramin Rezaeian dan skuad Iran berusaha fokus pada pertandingan berikutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup