Mahasiswa Bergerak: Aksi Lingkungan hingga Bentrokan dengan TNI Warnai Aktivitas Badan Eksekutif Mahasiswa
Plat Merah – Gerakan mahasiswa Indonesia kembali menunjukkan dinamikanya. Di berbagai daerah, badan eksekutif mahasiswa (BEM) menjadi motor penggerak aksi sosial dan politik. Mulai dari aksi lingkungan, respons terhadap isu ekonomi, hingga bentrokan dengan aparat, peran BEM tak pernah surut.
Di Lampung Selatan, badan eksekutif mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Teknokrat Indonesia menggelar aksi pelestarian lingkungan dengan menanam 1.000 bibit mangrove di kawasan wisata Mangrove Cuku Nyi Nyi, Desa Sidodadi. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat setempat ini bertujuan menjaga ekosistem pesisir dari abrasi dan perubahan iklim. “Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga alam,” ujar perwakilan BEM FTIK.
Sementara itu, di Bogor, Presiden badan eksekutif mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB University, M. Abdan Rofi, turut hadir dalam Studium Generale yang membahas masa depan sektor perkebunan. Ia menilai generasi muda perlu berperan dalam inovasi dan pengembangan teknologi perkebunan. Acara yang digelar oleh PTPN III ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga daya saing industri perkebunan Indonesia.
Di sisi lain, aksi protes badan eksekutif mahasiswa juga terus bergulir. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mendesak pemerintah mengatasi pelemahan rupiah dan mengancam menggelar Reformasi Jilid II jika tuntutan tak dipenuhi dalam 18 hari. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merespons dengan meminta mahasiswa tetap tertib dalam berdemo. “Kami Polri akan menjaga penyampaian aspirasi masyarakat tetap kondusif,” kata Sigit.
Namun, ketegangan terjadi di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, saat TNI melakukan pengosongan eks rumah dinas. Mahasiswa UI yang tergabung dalam BEM UI dan organisasi lainnya ikut mengadang aparat. Akibatnya, seorang mahasiswa bernama Muhammad Rafi Raditya mengalami luka-luka akibat dipukul, ditendang, dan ditonjok. Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengecam tindakan represif tersebut. “TNI seharusnya melindungi rakyat, bukan mengintimidasi,” tegasnya. Warga setempat juga menjadi korban, ada yang kepalanya terkena palu. BEM UI berencana melaporkan kejadian ini ke pemerintah pusat dan DPR.
Peristiwa di Lenteng Agung menunjukkan sisi lain dari peran badan eksekutif mahasiswa sebagai pembela warga. Di tengah berbagai aksi, BEM tetap menjadi representasi suara mahasiswa dan masyarakat. Mulai dari aksi lingkungan, dialog dengan industri, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan, BEM menunjukkan eksistensinya sebagai agen perubahan.
Kesimpulannya, aktivitas badan eksekutif mahasiswa di Indonesia sangat beragam, mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan, ekonomi, dan keadilan sosial. Meski menghadapi tantangan, BEM terus bergerak untuk mewujudkan perubahan positif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













