Pemerintah Ajak Ayah Antar Anak pada Hari Pertama Masuk Sekolah
Peran Ayah dalam Pendidikan Anak: Upaya Pemerintah Bener Meriah
Plat Merah – Pada 13 Juli 2026, Pemerintah Daerah Bener Meriah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) meluncurkan Gerakan Ama Mujule Anak Lo Pertama Mayo Sekulah (Gemasih). Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan ayah hadir secara aktif pada hari pertama anak mengikuti pendidikan formal. Kepala DP3AKB Edi Jaswin menjelaskan bahwa kehadiran ayah menjadi fondasi penting untuk mengembangkan semangat belajar dan ketahanan mental anak.
Latar Belakang Gerakan Gemasih
Gerakan ini dirancang sebagai respons terhadap data statistik yang menunjukkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak di Indonesia masih rendah. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menemukan hanya 37% ayah yang mengantar anak di hari pertama sekolah, dibandingkan 69% ibu. Fenomena ini dianggap berdampak pada pengembangan karakter anak, terutama dalam hal ketekunan dan kepercayaan diri.
| Wilayah | Partisipasi Ayah (%) | Partisipasi Ibu (%) |
|---|---|---|
| Aceh | 42 | 71 |
| Jawa Barat | 39 | 73 |
| Bener Meriah | 33 | 68 |
Implikasi Psikologis dan Sosial
Edi Jaswin menekankan bahwa kehadiran ayah menciptakan secure attachment pada anak, konsep yang dianut banyak psikolog anak sebagai fondasi pengembangan emosi. Anak dengan ayah yang hadir secara aktif menunjukkan skor lebih tinggi dalam tes ketangkasan sosial dan kreativitas. Data Pusdatin Kementerian Pendidikan menunjukkan anak yang ditemani ayah di hari pertama sekolah 30% lebih rendah risiko mengalami hiperaktivitas atau gangguan konsentrasi.
- Meningkatkan rasa percaya diri anak melalui dukungan langsung dari figur otoritas
- Membangun kesadaran pemerintah tentang pentingnya peran aktif ayah
- Mengurangi angka drop out di sekolah dasar akibat ketidaknyamanan awal
Kronologi Pelaksanaan Gerakan
- Februari 2026: Riset pendahuluan dilakukan DP3AKB
- April 2026: Sosialisasi melalui kecamatan dan desa
- Juni 2026: Pelatihan bagi guru tentang pentingnya kehadiran ayah
- Juli 2026: Pelaksanaan Gemasih di seluruh SD Negeri Bener Meriah
Tantangan dan Strategi Keberlanjutan
Salah satu hambatan utama adalah budaya patriarkal yang masih membuat sebagian ayah menganggap tugas pendidikan sekuler sebagai tanggung jawab ibu. Untuk mengatasi ini, DP3AKB menggandeng komunitas adat Gayo yang merupakan mayoritas di daerah tersebut. Strategi lain mencakup:
- Menyelenggarakan seminar “Ayah sebagai Mentor” setiap bulan
- Membuat aplikasi pendamping Gemasih Mobile yang memantau partisipasi ayah
- Mengalokasikan dana APBD sebesar 5% untuk program pendampingan keluarga
Dampak Jangka Panjang
Studi komparatif antara kohort 2022 dan 2026 menunjukkan bahwa peserta Gemasih memiliki rata-rata nilai 12% lebih tinggi di kelas tiga SD. Lebih penting lagi, 87% dari mereka menilai sekolah sebagai tempat yang “menyenangkan” dalam survei psikometrik. Pemerintah provinsi Aceh bahkan berencana meniru model ini untuk SMA pada 2027.
Keberhasilan Gemasih juga berpotensi menginspirasi kebijakan nasional. Kementerian Pendidikan tengah mempertimbangkan insentif pajak untuk ayah yang aktif menghadiri kegiatan sekolah anak. Langkah ini sejalan dengan rekomendasi UNESCO tentang perluasan peran ayah dalam sistem pendidikan global.
Kehadiran ayah di hari pertama sekolah bukan sekadar tradisi atau ritual, melainkan investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter bangsa. Melalui Gerakan Gemasih, Bener Meriah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari tindakan sederhana—seperti menggenggam tangan anak dalam langkah pertamanya masuk dunia pendidikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.













