Terdampak Kabut Asap Tebal, Sekolah di Kalimantan Selatan Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

Terdampak Kabut Asap Tebal, Sekolah di Kalimantan Selatan Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh

PlatMerah.com, BanjarbaruKabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Selatan (Kalsel) memaksa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat mengambil langkah antisipatif dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah-sekolah terdampak.

Kualitas udara yang memburuk hingga menyebabkan jarak pandang hanya sekitar 2 meter memengaruhi aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah SMA, SMK, dan SLB, baik negeri maupun swasta. Disdikbud Kalsel mengeluarkan Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian kegiatan belajar mengajar berdasarkan tingkat risiko dan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah.

Penyesuaian Pembelajaran dan Perlindungan Kesehatan

Dalam kondisi normal, kegiatan belajar tetap dilaksanakan secara tatap muka, namun jika kualitas udara memburuk, semua aktivitas di luar ruang seperti olahraga dan upacara sekolah dikurangi, dipindahkan ke dalam ruangan, atau dihentikan sementara untuk menjaga kesehatan warga sekolah. Jika kondisi udara semakin membahayakan, sekolah diperbolehkan melaksanakan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi peserta didik dari paparan asap berbahaya.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikbud Kalsel, Dedi Hidayat, menegaskan bahwa kebijakan ini tetap memastikan layanan pendidikan berjalan tanpa mengurangi perlindungan kesehatan. Selain itu, sekolah diwajibkan memberikan edukasi penggunaan masker dan perhatian khusus bagi siswa dan tenaga kependidikan yang rentan terhadap gangguan pernapasan.

Dampak Kabut Asap terhadap Masyarakat dan Kecelakaan Lalu Lintas

Selain memengaruhi dunia pendidikan, kabut asap juga berdampak pada kehidupan masyarakat di Kalsel. Beberapa wilayah seperti Gambut, Kertak Hanyar, dan Landasan Ulin diselimuti kabut asap sejak dini hari, menyebabkan gangguan pernapasan dan jarak pandang yang sangat terbatas. Warga seperti Dian di Pematang, Banjar, mengeluhkan kondisi yang sudah menjadi masalah tahunan tanpa solusi memadai dari pemerintah.

Kabut asap yang menyelimuti jalan dan permukiman juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Di kawasan perbatasan Tanah Laut dan Banjarbaru, kecelakaan terjadi akibat jarak pandang yang minim meskipun pengendara telah menyalakan lampu utama kendaraan. Beberapa insiden kecelakaan serius dilaporkan di kawasan ini, memicu aksi demo mahasiswa menuntut pemerintah daerah segera mengatasi masalah karhutla.

Risiko Kesehatan Akibat Paparan Kabut Asap

Risiko kesehatan menjadi bayang-bayang yang mengintai warga Kalsel di tengah kabut asap. Gejala seperti sesak napas dan mata perih dilaporkan oleh banyak warga, termasuk mereka yang berada di wilayah yang bukan pusat titik api. Konsentrasi partikel halus seperti PM2.5 dan PM10 yang tinggi dalam asap menjadi indikator utama memburuknya kualitas udara.

Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan Masyarakat

Pengamat kesehatan menyarankan masyarakat untuk tidak menunggu munculnya gejala kesehatan serius sebelum melindungi diri dari paparan kabut asap. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Membuat ruangan bersih (clean room) di rumah untuk meminimalkan paparan asap.
  • Menggunakan masker dengan standar N95 saat harus beraktivitas di luar ruangan.
  • Membatasi aktivitas dan perjalanan di luar rumah saat kualitas udara memburuk.
  • Memantau kualitas udara secara rutin guna mengambil tindakan cepat.
  • Memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Langkah-langkah ini penting dilakukan untuk mengurangi dampak buruk kabut asap bagi kesehatan masyarakat.

Kondisi kabut asap yang terjadi di Kalsel tahun ini kembali mengingatkan perlunya penanganan serius terhadap kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap musim kemarau. Upaya terpadu dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi dan mencegah karhutla agar dampak negatif seperti gangguan pendidikan, kesehatan, dan keselamatan dapat diminimalisir.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup