Menteri Pertahanan AS Klaim Terapkan Blokade Besi di Selat Hormuz, Iran Tak Bisa Setop Operasi
Plat Merah – Menteri Pertahanan AS klaim terapkan blokade besi di Selat Hormuz, sebut Iran tak bisa setop operasi. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam konferensi pers di Pentagon, menandai eskalasi terbaru di kawasan Teluk Persia. Blokade yang disebut-sebut sebagai ‘blokade besi’ itu bertujuan untuk menghentikan segala bentuk penyelundupan senjata dan minyak ilegal yang diduga dilakukan oleh pihak Iran dan sekutunya.
Menteri Pertahanan AS menegaskan bahwa operasi ini tidak dapat dihentikan oleh Iran, meskipun Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz. ‘Kami memiliki kemampuan untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka dan aman,’ ujarnya. Menteri Pertahanan AS klaim terapkan blokade besi di Selat Hormuz, sebut Iran tak bisa setop operasi, dan hal ini mendapat reaksi beragam dari negara-negara tetangga.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global, dengan sekitar 20% minyak dunia melewati perairan ini. Ketegangan yang meningkat memicu kekhawatiran akan krisis energi, terutama bagi negara-negara seperti Filipina yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Pengalaman Filipina saat Selat Hormuz lumpuh pada Maret 2026 lalu menjadi pelajaran berharga: negara kepulauan itu harus mengumumkan darurat energi nasional karena hampir seluruh minyak mentahnya diimpor dari kawasan tersebut tanpa cadangan strategis yang memadai.
Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa Lazaro, baru-baru ini memperingatkan bahwa Laut China Selatan tidak boleh menjadi Selat Hormuz kedua. Pernyataan ini mencuat di tengah meningkatnya aktivitas militer di perairan yang juga menjadi jalur perdagangan penting itu. Para analis menilai bahwa pola yang terjadi di Hormuz bisa terulang di Laut China Selatan, mengingat kedua kawasan memiliki konsentrasi arus perdagangan yang tinggi.
Menteri Pertahanan AS klaim terapkan blokade besi di Selat Hormuz, sebut Iran tak bisa setop operasi, dan langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menekan Iran dalam negosiasi nuklir yang sedang berlangsung. Namun, Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai ‘tindakan perang’. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengambil sikap hati-hati, khawatir akan dampak ekonomi jika konflik meluas.
Blokade ini juga memicu perdebatan di kalangan pakar keamanan internasional. Beberapa pihak menilai bahwa tindakan AS justru dapat memperburuk situasi dan memicu konfrontasi langsung di perairan yang padat lalu lintas. Di sisi lain, pendukung kebijakan ini berargumen bahwa blokade diperlukan untuk menjaga stabilitas global dan mencegah Iran memperkuat posisinya di kawasan.
Dengan perkembangan ini, dunia kini mengamati apakah Iran akan benar-benar berusaha menutup Selat Hormuz atau mencari cara lain untuk merespons. Yang jelas, Menteri Pertahanan AS tetap pada pendiriannya bahwa operasi blokade besi akan terus berjalan. ‘Kami tidak akan mundur,’ tegasnya. Kesimpulannya, situasi di Selat Hormuz masih sangat fluktuatif dan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih luas, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada jalur ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











