Pansus LHPBPK Situbondo Ungkap Kerugian Negara Rp1,6 Miliar: Proyek Jalan Jadi Fokus
Konteks LHPBPK dan Proses Audit
Plat Merah – Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (LHPBPK) merupakan dokumen wajib yang diterbitkan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) setiap tahun. LHPBPK 2025 Kabupaten Situbondo mencantumkan sejumlah temuan terkait penyimpangan anggaran. Laporan ini menjadi dasar pembentukan Panitia Khusus (Pansus) DPRD untuk menyelidiki tindak lanjut rekomendasi BPK.
Detail Temuan Rp1,6 Miliar
Ketua Pansus DPRD Situbondo, Siti Maria Ulfa, menyebutkan bahwa kerugian negara terjadi akibat proyek fisik yang tidak sesuai standar teknis dan administratif. Berikut distribusi kerugian berdasarkan laporan BPK:
| Proyek | Nominal (Rp) | Penyebab Utama |
|---|---|---|
| Pembangunan Jalan Raya Wonowangi | 450 juta | Spesifikasi material tidak sesuai |
| Pembangunan Jembatan Kaliwaru | 300 juta | Volume pekerjaan kurang dari kontrak |
| Paving Jalan Desa Sumberrejo | 250 juta | Belum diterimanya pekerjaan |
| Perkerasan Jalan Jatimulyo | 300 juta | Dokumen kontrak tidak lengkap |
| Proyek Drainase Kecamatan Banyuglugur | 300 juta | Pelaksanaan tidak sesuai RAB |
Waktu Pemulihan Kerugian
Sesuai Pasal 20 UU No. 15/2004, pemerintah daerah wajib menindaklanjuti rekomendasi BPK dalam 60 hari. Batas waktu untuk Situbondo adalah 28 Juli 2026. Hingga saat ini, belum ada progres pengembalian kerugian. Maria Ulfa menegaskan:
- Pemkab diminta segera menyesuaikan data keuangan dengan temuan BPK
- Penyelenggara proyek wajib mengembalikan dana yang tidak digunakan sesuai kontrak
- Proses hukum akan diambil jika ada indikasi korupsi
Analisis Akar Masalah
Temuan ini mencerminkan sistem lemah dalam pengelolaan anggaran. Beberapa faktor penyebab meliputi:
- Kurangnya koordinasi antara OPD dan kontraktor
- Seleksi proyek yang tidak transparan
- Penyusunan RAB yang tidak realistis
- Kurangnya pengawasan lapangan saat pelaksanaan
Kronologi Kejadian
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| Desember 2024 | BPK mulai audit laporan keuangan 2025 |
| Mei 2025 | LHPBPK diterbitkan, menyebut 15 temuan |
| Juni 2025 | DPRD membentuk Pansus LHPBPK |
| Juni 2026 | Pansus menggelar rapat dengan OPD |
| Juli 2026 | BPK akan melakukan evaluasi progres |
Dampak dan Implikasi
Temuan ini berpotensi memicu:
- Penurunan kredibilitas pemerintah daerah di mata investor
- Kerugian ekonomi bagi masyarakat akibat proyek yang tidak bermanfaat
- Penundaan proyek baru akibat sanksi administratif
- Proses hukum terhadap pelaku korupsi
Sejumlah warga Situbondo menyayangkan temuan ini. “Kami setuju dengan audit BPK. Proyek jalan harus benar-benar bisa digunakan, bukan hanya angka di laporan,” kata Ibu Nurlia, warga Desa Sumberrejo.
Langkah Kepemimpinan
Bupati Situbondo, H. Samsul Hadi, diwawancara wartawan menyatakan: “Kami akan segera membentuk tim tindak lanjut. Tapi yang lebih penting adalah memastikan sistem penganggaran kedepan lebih transparan.”
Perspektif Ahli
Prof. Dr. Ir. Bambang Suryo, pakar kebijakan publik dari Universitas Airlangga, menilai: “Temuan ini menunjukkan kegagalan sistem kontrol internal. Pemerintah harus melakukan reformasi prosedur lelang proyek dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan.”
Masih ada waktu 22 hari bagi Pemkab Situbondo untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, yang lebih penting adalah pembelajaran dari kasus ini agar tidak terulang di masa depan. Keterbukaan data anggaran, partisipasi aktif masyarakat, dan komitmen politik kuat dari DPRD serta eksekutif menjadi kunci untuk membangun tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








