Gerakan Gerbang Toll PBNU Muncul Jelang Muktamar ke-35 NU, Serukan Penolakan LPJ PBNU Secara Objektif

Gerakan Gerbang Toll PBNU Muncul Jelang Muktamar ke-35 NU, Serukan Penolakan LPJ PBNU Secara Objektif

PlatMerah.com, Jombang – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, muncul gerakan yang menyoroti Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gerakan yang dikenal dengan nama GERBANG TOLL PBNU (Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU) mengajak para peserta muktamar atau muktamirin untuk menilai LPJ PBNU secara kritis dan objektif.

Gerakan ini dipelopori oleh HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal dengan Gus Lilur, seorang tokoh muda NU dan kiai kampung asal Situbondo. Ia menegaskan bahwa penolakan terhadap LPJ bukan bermaksud permusuhan terhadap NU maupun para pengurus PBNU yang akan mengakhiri masa khidmah, melainkan sebagai bagian dari mekanisme evaluasi yang harus dijalankan secara transparan dan bertanggung jawab dalam forum tertinggi organisasi.

Alasan dan Tujuan Gerakan GERBANG TOLL PBNU

Gus Lilur menjelaskan bahwa LPJ tidak seharusnya dipandang sebagai formalitas atau sekadar tradisi penghormatan kepada pengurus lama. Jika ada persoalan mendasar yang belum terjawab, para muktamirin berhak mempertanyakan bahkan menolak LPJ tersebut. Penolakan ini merupakan bentuk hak organisasional untuk memastikan bahwa kepengurusan PBNU benar-benar menjalankan mandatnya dengan baik selama periode sebelumnya.

Salah satu alasan utama disuarakannya gerakan ini adalah konflik internal PBNU yang sempat terjadi dan terbuka di publik pada akhir 2025. Konflik tersebut berupa saling pemberhentian antar-pengurus dan klaim kewenangan yang berjalan secara terbuka, yang menurut Gus Lilur mencederai marwah organisasi NU dan tidak mencerminkan keteladanan dalam persaudaraan yang diharapkan oleh warga NU di tingkat akar rumput.

Makna Lokasi dan Muktamar ke-35 NU

Pemilihan lokasi Muktamar ke-35 di kompleks Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas juga memiliki nilai simbolik yang penting. Pesantren ini berkaitan dengan pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah. Menurut Gus Lilur, muktamar ini menjadi momen untuk mengembalikan tradisi pengabdian, pendidikan, kemandirian, dan pelayanan kepada umat yang menjadi semangat para pendiri NU.

Harapan dan Pesan untuk Muktamirin

Gus Lilur mengajak para muktamirin untuk menggunakan hak organisasional mereka secara objektif dalam menilai LPJ PBNU. Ia menekankan bahwa penolakan LPJ bukanlah tindakan permusuhan, melainkan wujud tanggung jawab untuk menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi. Menurutnya, muktamar bukan sekadar forum serah terima kepengurusan dan penghormatan, tetapi ruang untuk mempertanggungjawabkan mandat organisasi secara terbuka dan jujur.

Gerakan GERBANG TOLL PBNU juga mengingatkan bahwa warga NU di tingkat akar rumput tidak pernah meminta pertunjukan konflik internal yang terjadi selama ini. Mereka justru membutuhkan organisasi yang mampu memberikan keteladanan dalam persaudaraan dan manfaat nyata dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan sosial.

Dengan semangat tersebut, gerakan ini diharapkan dapat mendorong muktamar untuk menghasilkan keputusan yang mencerminkan kehendak dan kepentingan warga NU secara luas, serta menjaga marwah dan integritas organisasi Nahdlatul Ulama ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup