Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar

Jadi Biang Kegaduhan NU, Kiai Miftah dan Gus Yahya Dinilai tak Layak Maju lagi di Muktamar

PlatMerah.com – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), KH Anis Maftuhin, Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, Jawa Tengah, mengajak seluruh kader NU untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ruang terbuka guna menyampaikan gagasan terbaik bagi masa depan organisasi.

Aspirasi Kader NU untuk Perubahan

Menurut Anis Maftuhin, warga NU di tingkat bawah memiliki aspirasi sederhana yaitu memilih calon pemimpin yang mampu membawa perubahan dan menyelesaikan persoalan yang masih dihadapi oleh NU. Ia menegaskan bahwa energi organisasi seharusnya difokuskan pada pengembangan jamiyah dan jamaah, bukan perdebatan tentang siapa yang boleh atau tidak menjadi calon pengurus.

“Kami membawa aspirasi teman-teman di bawah kepada para muktamirin. Aspirasi kami sederhana, mari memilih calon yang benar-benar mampu membawa perubahan. Masih banyak persoalan di tubuh NU yang belum diselesaikan,” ujar Anis dalam diskusi bertajuk Muktamar NU untuk Semua di Cikini, Jakarta Pusat.

Evaluasi Aturan dan Proses Pemilihan

Anis menilai beberapa aturan dalam organisasi NU perlu evaluasi dan perbaikan. Ia menyayangkan bahwa menjelang muktamar, energi NU lebih banyak tersedot pada perdebatan calon pengurus daripada fokus pada kepentingan jamiyah dan jamaah.

Lebih lanjut, Anis mengingatkan agar kader NU tidak bersikap fobia terhadap latar belakang calon, termasuk yang memiliki pengalaman politisi. Hal utama yang harus menjadi ukuran adalah kapasitas, integritas, gagasan, dan kemampuan calon dalam memimpin NU. Jika calon terpilih juga menjabat di politik, mereka dapat mengundurkan diri dari posisi politiknya.

Dinamika Sejarah dan Proses Demokrasi Internal NU

Dalam sejarahnya, NU pernah menerapkan berbagai mekanisme pemilihan kepemimpinan, termasuk proses musyawarah panjang di tingkat kampung dan sistem one man one vote. Anis menegaskan bahwa yang paling penting adalah calon ketua memahami kebutuhan organisasi saat ini.

Penjaringan Calon Terbuka dan Pengecualian Dua Tokoh

Anis mengusulkan agar penjaringan calon pemimpin NU dibuka seluas-luasnya kepada kader dari berbagai latar belakang seperti teknokrat, birokrat, akademisi, dan politisi. Ia menegaskan bahwa semua kader berhak berkontestasi asalkan memenuhi kriteria gagasan dan kemampuan dalam memajukan NU.

Namun, Anis juga menyebutkan adanya dua tokoh yang dianggap sebagai biang kegaduhan dan dinilai tidak layak maju dalam muktamar, yaitu Rais Aam Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Menurutnya, kedua tokoh tersebut telah terbukti gagal dalam memimpin sehingga menjadi pengecualian dalam pencalonan.

Harapan untuk Muktamar NU yang Berkualitas

Anis berharap proses organisasi NU tidak hanya dipengaruhi oleh kepentingan elite tertentu, melainkan menjadi wadah terbuka yang memperhatikan aspirasi seluruh kader. Dengan demikian, muktamar dapat menjadi momentum penting bagi pembaruan dan penyelesaian persoalan NU.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup