BPBD Kotim Percepat Penanganan Karhutla Dekat Bandara Haji Asan Sampit

BPBD Kotim Percepat Penanganan Karhutla Dekat Bandara Haji Asan Sampit

Krisis Karhutla di Kawasan Strategis: Upaya Akselerasi BPBD Kotim

Plat Merah – Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur sedang bergerak cepat menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Baamang Hulu, wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Bandara Haji Asan Sampit. Dengan risiko tinggi mengganggu operasional transportasi udara, penanganan darurat ini menjadi prioritas nasional mengingat dampak ekonomi dan keamanan yang sangat besar.

Risiko Strategis di Kawasan Baamang Hulu

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menyatakan bahwa kawasan ini selama 5 tahun terakhir (2021-2025) telah tercatat mengalami 18 kejadian karhutla dengan total kerugian mencapai 45 hektare lahan. Data terbaru per 6 Juli 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dengan 11 hektare terbakar di tiga kecamatan:

KecamatanLuas TerbakarStatus Penanganan
Mentaya Hilir Utara3 Ha80% terkendali
Seranau4 Ha65% terkendali
Baamang4 Ha40% terkendali

Strategi Multi-Layer Penanganan Karhutla

BPBD telah menerapkan pendekatan tiga dimensi dalam penanganan:

  • Operasi Darat: 150 personel gabungan TNI-Polri-Pemda dikerahkan dengan 25 unit mobil pemadam
  • Operasi Udara: Helikopter water bombing di Palangka Raya siap diterbangkan dalam 30 menit setelah permintaan
  • Modifikasi Cuaca: Sebelumnya operasi dilakukan 12 kali dalam 2 minggu terakhir dengan 800 liter cairan modifikasi

Kronologi Penanganan Darurat

TanggalKejadian
1 JuliDeteksi api pertama di Mentaya Hilir Utara
3 JuliHelikopter water bombing diterbangkan ke Seranau
5 JuliOperasi modifikasi cuaca dilakukan 4x
6 JuliKoordinasi intensif dengan pengelola Bandara Sampit

Analisis Dampak dan Implikasi

Keberhasilan penanganan ini bukan hanya soal teknis pemadaman, tetapi juga menyangkut:

  • Ekonomi: Bandara Sampit melayani 45.000 penumpang/bulan yang 60% berasal dari sektor perkebunan dan pertambangan
  • Ekosistem: Kawasan ini berbatasan dengan Taman Nasional Sebangau yang menyimpan 20% biodiversitas Kalimantan
  • Kesehatan: Jika asap mencapai 300 µg/m³ (standar BMKG), 50.000 penduduk di 5 kecamatan berisiko ISPA
  • Kelautan: Sungai Mentaya yang mengalir dari kawasan ini memberi 30% kebutuhan air tawar Kota Sampit

Dua Tantangan Utama yang Diakui BPBD

Multazam menegaskan tantangan terbesar saat ini adalah:

  1. Struktur tanah gambut yang mudah terbakar (kedalaman 2-3 meter) membutuhkan 10 kali usaha pemadaman darat
  2. Faktor cuaca dengan kelembapan udara <30% selama musim kemarau mempercepat laju penyebaran api

Langkah Pencegahan di Tingkat Komunitas

BPBD telah melakukan 12 kali pelatihan pencegahan karhutla bagi 1.200 kepala keluarga, termasuk:

  • Pelatihan sistem irigasi mikro untuk mengatasi lahan kering
  • Pengadaan 50 unit alat deteksi dini karhutla berbasis IoT
  • Program “Pemantau Karhutla Desa” dengan insentif Rp 1 juta/bulan

Kepala UPBU Sampit, Abdul Haris, memastikan koordinasi real-time dengan tim pemadam setiap 2 jam untuk memantau visibilitas di landasan pacu yang saat ini masih di atas standar aman (VIS > 1600 meter). Namun, risiko operasional akan meningkat jika kebakaran menyebar ke kawasan perkebunan kelapa sawit <2 km dari landasan pacu.

Di tengah upaya pemadaman, pemerintah daerah juga mulai menyiapkan rencana pemulihan ekologi dengan menanam 100.000 bibit di lahan terbakar pada Agustus 2026. Proyek ini akan dilakukan bersama WWF Indonesia dan masyarakat sekitar untuk mengembalikan fungsi hidrologi gambut yang rusak akibat kebakaran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Plat Merah.

Tinggalkan Balasan

Tutup